4 Ritual Saya Saat Menulis Buku

Inilah “ritual “yang saya  pakai agar bisa menulis buku (setebal 200 halaman) hanya dalam waktu 9 hari.

Minggu lalu (akhir Juli 2016), keseharian saya sebagai blogger agak sedikit terganggu. Sekitar 9 hari saya sama sekali tidak menulis di blog. Apa yang menyebabkan hal tersebut?

Jawabannya adalah selama 9 hari tersebut saya memfokuskan untuk menulis sebuah buku baru. Buku tersebut berjudul Affiliate Marketing Modal Dengkul. Kemungkinan besar, buku tersebut akan terbit bulan November 2016 mendatang. Melalui buku ini, pembaca  akan dipandu untuk menghasilkan passive income dari bisnis affiliate marketing.

Asal tahu saja, buku setebal hampir 200 halaman itu saya kerjakan hanya dalam waktu 9 hari.

Lantas, apa kunci sukses bisa menulis dengan relatif cepat tersebut? Ini dia ulasan selengkapnya. Inilah empat hal yang menjadi bagian dari ritual saya saat menulis buku.

1. Menulis Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Setiap kali menulis buku, saya selalu menulis berdasarkan pengalaman pribadi.

Menulis berdasarkan pengalaman menjadikan kita bebas berkreasi dan lebih cepat dalam menulis. Kita tidak akan bingung harus menulis apa, sebab semua ditulis berdasarkan sesuatu yang sudah kita alami.

Saya termasuk orang yang suka membaca cerita dan pengalaman pribadi menulis. Bahkan, saya cepat bosan jika harus membaca buku yang hanya berisi banyak kutipan dari buku-buku lain. Pernah saya menjumpai sebuah buku tentang metode mengajar. Sempat kepincut dengan judul buku tersebut (buku seputar metode mengajar di Harvard), saya justru merasa bosan dengan halaman-halaman awal buku.

Tidak lain tidak bukan, pembaca langsung disuguhi dengan berbagai kutipan dan teori dari buku-buku lain. Entah karena saya termasuk generasi Y atau apa, saya langsung kehilangan rasa tertarik dengan buku semacam itu. Yang saya harapkan adalah penulis memperbanyak cerita  seputar pengalamannya. Atau bisa juga penjelasannya dikemas dengan gaya bahasa yang lebih deskriptif. Ya mirip seperti orang bercerita lah. Bukan sekadar kumpulan kutipan dari buku lain.

Menulis berdasarkan pengalaman pribadi akan menjadikan Anda lebih lancar saat menulis.

Menulis berdasarkan pengalaman pribadi akan menjadikan Anda lebih lancar saat menulis.

Sepanjang karir kepenulisan saya, menulis berdasarkan pengalaman pribadi sangat membantu. Saya tahu apa yang harus ditulis. Saya tahu bumbu apa yang harus saya tambahkan. Dan yang paling penting ada pelajaran yang bisa dipetik pembaca dari pengalaman kita.

Coba deh perhatikan anak-anak sekolah (SD atau SMP). Jika mereka disuruh mengarang, mereka akan sangat mudah untuk menulis ketika bercerita tentang pengalaman pribadi mereka. Misal pengalaman mereka berlibur ke rumah nenek, pengalaman liburan ke pantai, atau pengalaman mereka ketahuan nyolong rambutan. Menulis berdasarkan pengalaman akan membantu Anda untuk menulis dengan lebih lancar.

2. Membagi Proses Pengerjaan Menjadi Tiga Bagian

Agar bisa menulis dengan efisien, saya membagi proses pengerjaan menjadi tiga bagian. Tiga bagian tersebut antara lain :

  • Perencaaan buku. Di bagian ini saya melakukan eksplorasi ide, melakukan riset, dan menyusun kerangka buku (outline). Kerangka buku inilah yang menjadi acuan saat proses penulisan naskah. Saat menulis naskah, saya tinggal menulis sesuai outline yang sudah ada. Dengan demikian, saya sudah tahu habis ini harus ngapaian, selesai bagian ini saya harus ngapain. Semua sudah terencana.
Contoh outline. Inilah sebagian outline buku Affiliate Marketing Modal Dengkul.

Contoh outline. Inilah sebagian outline buku Affiliate Marketing Modal Dengkul.

  • Penulisan naskah dan pembuatan gambar tutorial. Karena buku yang saya kerjakan berupa buku tutorial, maka di buku tersebut ada banyak tutorial. Misalkan tutorial (panduan) membuat blog, panduan mengganti template blog, panduan membuat artikel di blog, dan lain sebagainya. Nah tutorial tadi dihadirkan dalam bentuk gambar-gambar. Alhasil saat proses pengerjaan buku, saya juga harus mengerjakan tutorial yang saya buat. Misalkan ketika menulis tentang pembuatan blog, maka saya harus praktik membuat blog. Lalu, tutorial tadi akan saya sajikan di buku.
Contoh tutorial yang disajikan di buku.

Contoh tutorial yang disajikan di buku.

  • Editing dan publishing. Proses yang ketiga adalah proses pengeditan dan kemudian publikasi. Di tahap inilah saya akan mengedit naskah buku yang sudah selesai. Setelah naskahnya diedit, barulah saya menyiapkan kelengkapan naskah (seperti halaman profil penulis, prakata, daftar isi, dan lain sebagainya). Nah jika semua sudah komplit maka naskah tinggal saya kirimkan ke penerbit.
Halaman daftar isi baru saya kerjakan saat memasuki proses editing.

Halaman daftar isi saya kerjakan setelah selesai proses editing.

Omong-omong, jika Anda ingin tahu cara mengedit naskah buku, silakan pelajari video berikut.


Dari ketiga proses di atas, proses penulisan naskah adalah yang paling lama. Dari 9 hari, tujuh hari di antaranya saya berkutat di penulisan naskah. Untuk editing dan publishing, saya hanya perlu waktu dua hari. 🙂

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika Anda mengerjakan naskah buku, ada baiknya jika Anda membagi proses menjadi tiga. Yakni tahap perencaanaan, pengerjaan, dan kemudian baru editing. Sebelum Anda mulai menulis naskah, pastikan Anda sudah punya outline buku Anda. Entah itu fiksi atau non fiksi, Anda akan tetap butuh outline.

Untuk penulisan fiksi, outline ini bisa berupa rancangan cerita Anda. Misalkan tokoh yang akan ditampilkan siapa saja, alur ceritanya seperti apa, konfliknya bagaimana, dan lain sebagainya.

Nah kalau untuk non fiksi, outline nya sudah tentu berupa susunan bab demi bab buku Anda.

3. Fokus Pada Satu Hal

Ritual saya yang ketiga adalah saya selalu fokus saat menulis buku. Penulis lain punya istilah mereka masing-masing, ada yang bilang mereka seolah “masuk ke gua” untuk mengerjakan buku, ada pula yang pakai istilah “menyendiri”, dan lain sebagainya. Saya pun demikian. Ketika sedang mengerjakan naskah buku, saya selalu mengerjakannya dengan fokus. Semua pekerjaan yang tidak relevan dengan penulisan buku pasti saya tinggal sejenak.

Bahkan selama satu minggu saya sama sekali tidak mengecek email. Email dari editor pun harus saya abaikan selama beberapa hari. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, ketika sedang mengerjakan sesuatu, saya pasti melakukannya dengan fokus. Semua pekerjaan besar saya kerjakan satu per satu. Jadi maklum saja kalau selama satu minggu saya tidak ngeblog. 🙂

Dengan berfokus, semua energi akan tercurah ke buku yang kita kerjakan. Alhasil kita akan lebih efektif dalam bekerja.

4. Musik yang Asik dan Kopi yang Menemani

minum kopi

Saat bekerja, saya pasti ditemani musik dan kopi. Dua hal ini tidak terpisahkan. Apalagi ketika sedang menulis (entah di blog, buku, dsb), saya pasti selalu ditemani kopi dan musik. Untuk jenis kopi, saya suka kopi hitam (ya iyalah, kopi kan biasnaya hitam he..he, emang ada kopi biru?) dan kopi susu. Pemilihan antara kopi hitam atau kopi susu tergantung mood. Dalam sehari, biasanya saya hanya menghabiskan satu atau dua gelas kopi.

Nah kalau soal musik, ini tidak tentu, juga tergantung selera. Untuk buku Affiliate Marketing Modal Dengkul ini, saya banyak mendengarkan musik-musik tahun 80’an. Lagu seperti Karma Chameleon, Sweet Child O Mine, Paradise City, Never Give You Up, menjadi teman akrab saya.

“Karma karma karma chameleon, You come and go… You come and go…” liriknya seolah masih membisik di telinga saya.

Selain itu saya juga mendengarkan lagu-lagu dari Queen. Contohnya seperti yang satu ini. Buat saya, musik-musik tahun 80’an itu keren-keren. Cenderung lebih jenius dibandingkan musik-musik saat ini.

Namun  untuk naskah buku yang lain, saya mendengarkan jenis musik lain. Kadang musik jazz, kadang lagu-lagu pop, tidak menentu. Kalau soal penyanyi idola, saya tidak spesifik menyukai seseorang. Selagi musik dan lagunya asik, saya pasti suka. Hanya saja, kalau diminta menyebutkan nama, saya suka Monita Tahalea. Anda bisa cari video-nya di YouTube.

Itulah empat ritual saya saat mengerjakan buku. Dengan menerapkan ritual inilah saya bisa produktif menulis. Hingga posting ini ditulis, total sudah ada 33 naskah buku yang saya kerjakan. 32 dari 33 naskah tadi sudah terbit.

Oh iya, saat bekerja, setiap 20 – 30 menit sekali saya rehat sejenak. Saya mengalihkan pandangan dari layar komputer, ke sesuatu yang lain. Entah itu sekadar memandang langit, pohon, dan lainnya. Saya juga berdiri dari tempat duduk, merenggangkan badan. Hal ini sengaja dilakukan agar pikiran menjadi lebih fresh. Alhasil kita akan tetap semangat dan tidak jenuh ketika menulis.

Semoga sharing kali ini bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Jefferly Helianthusonfri

Mau dipandu menjadi penulis dan menghasilkan passive income dari menulis? Kunjungi : KeajaibanMenulis.com.

 

2 Comments

  1. Ricky Rachmanto

    Keren mas Jeff ritualnya… boleh ditiru, hanya saja mood menulisnya aja kadang timbul, kadang kagak.

    Nah gimana ya mas kembaliin mood nulis? terutama nulis buku. Beberapa bulan belakangan ini semenjak februari kirim proposal baru, udah diterima, cuman sampe sekarang belum selesai tulisan saya, gak nyampe 200 halaman lagi 😀

    Gimana ya?

  2. Juan

    Saya bookmark dulu, ini bisa menjadi referensi yang sangat menarik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *