Apakah Saya Akan Tetap Menjadi Karyawan Setelah Lulus Kuliah?

Beberapa hari sebelum posting ini ditulis, saya ngobrol dengan dua teman. Di sela-sela obroloan kami, salah satu teman tadi bertanya begini.

Jeff, kalau kamu sudah lulus nanti mau tetap jadi jurnalis atau langsung bisnis?” Sekadar informasi, saya berkuliah di program studi jurnalistik. Jadi, kemungkinan besar nantinya saya juga akan berkarir di bidang jurnalistik.

Jika pertanyaan tadi diajukan beberapa tahun yang lalu, sudah pasti saya akan menjawab, “Ya pasti bisnis dong.”

Namun jika pertanyaan tadi diajukan sekarang maka saya akan menjawab bahwa saya memilih untuk bekerja sebagai karyawan terlebih dahulu.

Kemudian teman saya bertanya lagi, “Kenapa kamu masih mau kerja kantoran, kan kamu sudah mengembangkan bisnis internet?”

Barangkali sebagian orang akan mengira bahwa saya masih ragu dengan bisnis internet yang sudah saya tekuni. Namun, alasan mengapa saya ingin tetap bekerja setelah lulus kuliah bukanlah itu. Saya sama sekali tidak ragu dan pesimis dengan bisnis yang saya jalani. Bukankah mental seorang entrepreneur harus selalu optimis dan berpikir positif?

Lantas, apa yang menyebabkan saya tetap ingin bekerja setelah lulus kuliah? Temukan jawabnnya dalam tulisan berikut.

Pilih Jadi Ikan Besar di Kolam Kecil atau Ikan Kecil di Kolam Besar?

Dalam salah satu episode Mario Teguh Golden Ways, Mario Teguh pernah mengajukan pertanyaan “Pilih jadi ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil?” Waktu itu saya bingung dengan pertanyaan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami kapan saya harus menjadi ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar.

Menjadi ikan besar di kolam kecil dapat diartikan sebagai menjadikan diri sebagai seorang pebisnis di bisnis yang relatif kecil. Kolam kecil adalah gambaran dari bisnis kita. Sudah tentu bisnis yang akan kita mulai pasti dimulai dari ukuran kecil.

Sedangkan menjadi ikan kecil di kolam besar dapat diartikan sebagai menjadi seorang pekerja profesional di perusahaan besar. Ya, karena kita merupakan fresh graduate, tentu kita identik dengan ikan kecil. Saat kita berkarir di perusahaan besar maka saat itu pula kita sedang “berenang” di kolam besar.

Dari dua pilihan di atas mana yang terbaik?

Tentu tidak ada jawaban mutlak atas pertanyaan tersebut. Idealnya memang kita mengawali dari menjadi ikan kecil di kolam besar. Hanya saja, tak selamanya memulai dengan menjadi ikan besar di kolam kecil itu salah.

Mark Zuckerberg (co-founder Facebook) tidak lulus kuliah dan langsung berkarir sebagai pebisnis yang dahsyat. Facebook yang ia ciptakan sukses menyebar ke seluruh dunia. Tak heran bahwa ia menjadi salah satu anak muda paling kaya di dunia. Di internet ada banyak kisah sukses anak muda yang tidak lulus kuliah tetapi sukses menjadi milyarder.

Mark ZuckerbergHanya saja, saya menyadari bahwa saya bukanlah Bill Gates (salah satu pendiri Microsoft) atau Mark Zuckerberg. Untuk itu, saya lebih memilih untuk memulai menjadi ikan kecil di kolam besar.

Setelah Lulus, Langsung Berbisnis atau Bekerja Dulu?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh teman-teman muda. Setelah lulus, sebaiknya kita langsung berbisnis atau bekerja terlebih dahulu?

Atas pertanyaan ini saya punya jawaban sebagai berikut. Jika memang ingin berbisnis, maka waktu yang tepat untuk memulai bisnis adalah saat Anda masih kuliah/sekolah. Mengapa? Sebab saat kita masih kuliah/sekolah, kalaupun toh kita gagal, kita tidak akan rugi-rugi amat. Beban hidup kita masih kecil. Kalaupun bisnis kita merugi, kita juga tidak akan kelaparan. Masih ada orang tua yang akan membiayai kita. (Baca juga : Kapan Waktu Terbaik Untuk Memulai Bisnis? )

Namun akan lain ceritanya ketika kita berbisnis setelah lulus kuliah. Idealnya, seorang sarjana diharapkan untuk bisa segera mandiri. Namun sayangnya, saat kita berbisnis tidak ada jaminan bisnis kita akan berhasil. Alih-alih berhasil, bukan tidak mungkin bisnis kita merugi dan berjumpa dengan kegagalan. Jika bisnis kita rugi, sudah tentu ujung-ujungnya kita akan kembali ke orang tua. Sama saja dengan kita menambah beban orang tua. Hanya saja, ini akan lain cerita kalau orang tua kita adalah milyarder nan kaya raya.

Berkaitan dengan pilihan saya untuk bekerja setelah lulus kuliah, ada beberapa poin plus yang akan kita dapatkan jika kita bekerja setelah lulus kuliah. Poin plus tersebut antara lain :

  • Kita belajar memahami “rimba” bisnis yang akan kita tekuni. Sebagian besar teman-teman pebisnis yang saya jumpai mengawali karirnya sebagai seorang karyawan/pekerja kantoran. Mereka lebih dulu bekerja karena dengan bekerja mereka bisa mempelajari rimba bisnis yang suatu saat akan mereka masuki. Jika setelah lulus kuliah kita ujuk-ujuk mau berbisnis, potensi gagalnya cukup besar. Hal ini terjadi karena biasanya kita masih belum memahami bidang bisnis yang akan kita tekuni. Jika memang mau trial and error, maka trial and error ini sebaiknya dilakukan saat kita masih sekolah/kuliah.
  • Kita bisa membangun relasi dan belajar dari orang-orang senior. Bekerja di sebuah perusahaan besar, bukan hanya tentang gaji/pendapatan yang lebih besar. Menurut saya, faktor yang lebih penting daripada gaji adalah networking yang bisa kita bangun. Sekalipun saya dibayar 8 juta Rupiah untuk bekerja di media lokal (misal di Lubuklinggau), saya akan tetap memilih dibayar 5 juta Rupiah jika bisa bekerja di Metro TV. Mengapa? Karena dengan bekerja di Metro TV saya bisa membangun relasi dan belajar langsung dari idola-idola saya (seperti Najwa Shihab dan Andy F. Noya).
Najwa Shihab, salah satu idola yang menginspirasi saya untuk menjadi jurnalis.

Najwa Shihab, idola yang menginspirasi saya untuk menjadi jurnalis.

  • Kita bisa belajar bagaimana sebuah perusahaan besar beroperasi. Kelebihan ketiga adalah kita bisa mempelajari bagaimana sih perusahaan besar itu berjalan. Bagaimana sistem media nasional bekerja? Bagaimana sistem kerja perusahaan-perusahaan multiansional? Semua itu dapat kita pelajari langsung kalau kita berkarir di perusahaan tersebut. Setelah kita mempelajari sistem tadi, barulah suatu saat nanti sistem tadi kita coba adaptasikan dalam bisnis yang akan kita bangun.

Jangan Terjebak di Zona Nyaman

Pada intinya, saya ingin menjadi seorang karyawan bukan karena sekadar gaji. Jika hanya berharap pada gaji, maka untuk meraih 5 – 10 juta per bulan tentu tidak harus dengan repot-repot bekerja di perusahaan. Dengan berbisnis internet saja, pendapatan 5 – 10 juta per bulan bisa kita kantongi. Apalagi pendapatan tersebut dapat kita raih cukup dengan bekerja dari rumah.

Apa yang saya cari dengan menjadi seorang karyawan antara lain :

  • Pembelajaran langsung di perusahaan besar. Saya ingin belajar bagaimana sistem kerja perusahaan besar. Suatu saat, pembelajaran ini pasti akan bermanfaat untuk saya.
  • Relasi dengan orang-orang senior. Saya punya harapan suatu saat bisa bekerja sama dengan idola-idola yang menginspirasi saya. Sebut saja seperti Najwa Shihab, Mario Teguh, Andy Noya, dsb. Dengan berkarir di perusahaan besar tentu akan semakin besar peluang saya bisa bekerja sama dengan idola-idola saya tadi. Selain itu, saya juga punya impian menjadi jurnalis andal yang bisa mewawancarai tokoh-tokoh dunia. Sudah tentu untuk menggapai impian tadi saya harus berkarir sebagai jurnalis di perusahaan yang memungkinkan saya mencapai impian tersebut.
  • “Uang praktikum”. Perbedaan ketika berbisnis sendiri dengan bekerja di suatu perusahaan adalah dalam hal uang praktikum. Apa sih uang praktikum itu? Uang praktikum adalah istilah yang saya gunakan untuk menyebut uang yang kita gunakan untuk melakukan uji coba/praktik dalam bisnis. Contoh kecil, jika Anda beriklan di Facebook Ads, tentu Anda perlu mengeluarkan uang. Jika kita berbisnis sendiri, tentu biaya marketing ini harus berasal dari kantong kita. Namun jika kita bekerja di perusahaan, budget marketing sudah disediakan. Kita tinggal memakai budget tersebut sesuai prosedur yang ada. Singkatnya, kita bisa belajar dan praktik tetapi uang praktikumnya berasal dari perusahaan. Jadi, dalam hal ini saya memandang perusahaan sebagai sebuah “laboratorium besar” yang dapat saya pakai untuk belajar banyak hal.

Dengan niat seperti di atas, mudah-mudahan kita tidak akan terjebak dan terlena di zona nyaman. Saya tidak ingin hanya berkarya di suatu perusahaan sampai pensiun. Saya ingin punya dampak yang lebih puas, pengaruh yang lebih luas, dan manfaat yang lebih besar. Untuk itulah, suatu saat ketika waktunya sudah tiba, saya pasti akan bermigrasi dari kolam besar ke kolam kecil saya. Selanjutnya, tentu saya harus membesarkan kolam kecil tadi agar menjadi kolam besar yang bisa membantu orang-orang mencapai impian mereka.

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

Catatan : kendati demikian, semua kembali kepada pilihan Anda masing-masing. Pilihlah pekerjaan yang membuat Anda bersemangat, penuh dedikasi, dan terus berkembang.

 

Photo credit : Ahmad Al.

kursus pengembangan diri terlengkap

2 Comments

  1. arreza mp

    artikel yang bagus pak, saya baru selesai membaca buku anda yang berjudul

    blog gratis dan praktis, omzet fantastis

    dan ingin mengikuti komunitas komunitas dari bapak

    terima kasih

  2. franky

    sangat inspiratif sekali, saya senang dengan semangat pak Jefferly yang banyak memberikan ilmu lewat tulisan2 bapak, terima kasih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *