Bagaimana Cara Agar Anda 3 Kali Lebih Produktif dari Saat Ini?

Bekerja dari rumah memang mengasyikkan, kita bisa bekerja secara fleksibel tanpa perlu terikat dengan birokrasi kantor yang kadang menyesakkan.

Tak hanya itu, ketika kita bekerja dari rumah, kita juga bisa tetap dekat dengan anak-anak dan keluarga.

Hanya saja, bekerja dari rumah kadang tak “semulus” kelihatannya. Ada berbagai tantangan untuk kita yang bekerja dari rumah. Salah satu tantangan yang kerap dijumpai ketika bekerja dari rumah adalah kita kadang menjadi tidak produktif. Masalah produktivtias kerap menjadi topik perbincangan dalam kegiatan bekerja dari rumah.

Sebagai seseorang yang juga bekerja dari rumah, kali ini saya akan sharing tentang penyebab-penyebab kita menjadi tidak produktif. Satu minggu sebelum terakhir (kira-kira sepekan pertama di September 2015) saya merasakan produktivitas saya menurun. Saya merasa seolah ada banyak hal yang harus dikerjakan, tetapi hanya beberapa yang terselesaikan.

Lantas, pelajaran apa yang bisa saya petik dari pengalaman ini? Bagaimana kiat agar kita lebih produktif? Berikut ulasan selengkapnya.

1. Terlalu Banyak Hal yang Harus Dikerjakan

Untuk menjadi sukses memang ada banyak hal yang harus kita selesaikan. Perjuangan untuk menjadi berhasil (dalam bisnis) seakan tidak mengenal kata berhenti. Ada banyak anak tangga yang harus kita naiki, akan selalu ada penyempurnaan yang harus kita lakukan. Oleh sebab itu, tak heran ada banyak sekali kegiatan yang perlu kita selesaikan.

Namun jika terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, bisa-bisa kita bingung mana yang harus segera dikerjakan. Ketika bingung, bisa-bisa kita malah menunda pekerjaan. Alih-alih terselesaikan, pekerjaan jadi menumpuk dan tugas semakin menggunung.

Hal demikian terjadi pada saya. Minggu pertama September 2015 adalah minggu pertama saya menempuh kuliah di semester 3. Di semester 3 ini jadwal kuliah saya cukup padat. Dari Senin sampai Sabtu, saya harus kuliah. Dibanding semester 1 dan 2 lalu, semester ini terlihat lebih padat. Di semester 1 dan 2 lalu, saya bisa libur selama 3 hari dalam satu pekan (4 hari kuliah, 3 hari libur). Waktu libur inilah yang kerap saya manfaatkan untuk kegiatan bisnis. Namun di semester 3, saya hanya dapat jatah libur 1 hari. 🙁

Sedikit banyak padatnya jadwal kuliah ini akan berpengaruh terhadap produktivitas.

Lantas, bagaimana solusi jika terlalu banyak hal yang harus kita kerjakan?

Solusinya adalah kita harus membuat daftar prioritas. Kita bisa menyusun daftar yang berisi tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Daftar prioritas ini disusun berdasarkan tingkat urgensi suatu tugas. Semakin mendesak suatu tugas, maka tugas tersebut harus kita selesaikan lebih dahulu.

Untuk itu, jika Anda merasa terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, maka buatlah daftar prioritas. Segera selesaikan tugas-tugas yang memang harus Anda selesaikan. Jika hal-hal mendesak sudah Anda kerjakan, barulah lanjut ke berbagai tugas lainnya. Lambat laun, produktivitas Anda akan meningkat dan memberi hasil yang menggembirakan.

2. Kebiasaan Menunda

Nah ini nih salah satu penyebab produktivitas kita melorot. Kadang kita suka menunda sesuatu. Biasanya begini reaksi kita.

Ah nanti aja deh, sekali-kali nyantai dikit gak apa-apa lah.”

Bukannya menyelesaikan tugas-tugas, kita malah menunda. Tidak selamanya menunda merupakan hal buruk. Hanya saja, jika memang tugas tersebut harus kita kerjakan, ya sebaiknya segera kita kerjakan. Di minggu pertama September ini, saya kerap menunda. Sempat mendapatkan ide untuk menulis di blog, saya malah menunda kegiatan menulis. Alhasil ide menjadi hilang dan mood menulis kembali berlalu.

Jika menunda mulai menjadi kebiasaan, maka kita harus segera mengambil tindakan. Segera kerjakan hal-hal yang memang harus dikerjakan. Segera selesaikan hal-hal yang memang harus diselesaikan.

Jika ingin menunda, maka gunakanlah tindakan menunda untuk hal-hal yang positif. Misalnya :

  • menunda belanja barang yang tidak kita butuhkan,
  • menunda kegiatan yang sifatnya konsumtif dan tidak dibutuhkan,
  • menunda beli gadget baru,
  • dsb.

3. Terlena dengan Zona Nyaman

Sudah terbiasa meraih ribuan dollar dari internet kerap membuat sejumlah orang terebak zona nyaman. Tanpa melakukan upaya yang “berat”, uang mengalir dengan nyamannya.

Sudah terbiasa melihat produk laris manis, sebagian orang malah terjebak zona nyaman. Alih-alih berinovasi dan terus meningkatkan produk, sebagian orang malah terlalu cinta kondisi saat ini. Perubahan pun diabaikan. Alhasil, orang-orang ini terlibas roda persaingan yang kiat ketat.

Ketika terjebak di zona nyaman, kehidupan seakan berjalan biasa-biasa saja. Seolah tidak ada lagi risiko yang harus kita hadapi. Kita memilih cara-cara yang sudah biasa dan terbilang “aman”. Karena sudah terbiasa dengan semua hal yang serba aman, kita malah menghindari mengambil risiko, kita mulai takut akan adanya perubahan. Nah, zona nyaman ini dapat menjebak. Hidup berjalan datar.

Kadang, karena terlalu nyaman maka inovasi dan peningkatan pun diabaikan. Alhasil produktivitas dan penciptaan karya-karya gemilang pun mulai terpinggirkan. Kenapa harus inovasi lagi, kalau yang sekarang toh sudah oke?

Saya sudah beberapa kali terjebak di zona nyaman. Semua seakan berjalan nyaman dan aman. Alhasil tempo hidup menjadi melambat dan akibatnya mulai timbul penundaan terhadap hal-hal yang harus dikerjakan. Ah nanti saja.. toh sekarang juga masih baik-baik saja. Alhasil penundaan ini menjadi penyebab menurunnya produktivitas.

Solusi agar tidak terjebak di zona nyaman adalah kembali pada nasihat hidup sederhana yang sering kita dengar.

Begini nasihatya.

Jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jadikan hari esok lebih baik dari hari ini.

Ya nasihat tadi mengajak kita untuk terus meningkatkan kualitas dari hari ke hari. Jika hari ini kita sudah baik maka besok kita bisa lebih baik lagi. Jika hari ini bisnis kita bernilai 100 juta Rupiah, maka tahun depan bisnis kita bisa bernilai 1 milyar Rupiah. Itulah pertumbuhan. Itulah kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin.

Tidak pernah berhenti belajar, terus meningkatkan kualitas diri.

4. Sedang Bosan

Rasa bosan juga kerap menghambat produktivitas. Ketika kita bosan, kita seakan bingung harus mengerjakan apa.

Apalagi jika kita berkarir di bidang seni dan penciptaan karya. Ambil contoh jika kita seorang penulis. Sebagai seorang penulis, mood untuk menulis amatlah penting. Ketika kita sedang berada dalam mood yang baik dan kondisi on fire, maka sudah pasti produktivitas akan melejit. Namun ketika mood hilang (karena rasa bosan) bisa-bisa kita melalui hari tanpa menghasilkan apa-apa.

Bagi saya, rasa bosan termasuk salah satu penyebab produktivitas menurun.

Solusi bagi Anda yang merasa bosan, silakan alihkan sejenak diri Anda dari rutinitas. Mudah-mudahan dengannya Anda dapat menemukan inspirasi baru untuk berkarya. Anda dapat menikmati musik, menonton film, membaca buku kesukaan Anda, meluangkan waktu untuk jalan-jalan dan lain sebagainya.

Selain itu, rasa bosan juga dapat diatasi dengan mensyukuri hal-hal yang sudah Anda miliki. Ketika bersyukur, kita bisa lebih mudah untuk berbahagia. Dengan rasa bahagia, maka rasa bosan sudah pasti dapat terusir.

Jika sudah tidak bosan, maka kita bisa kembali berkarya. Makin banyak karya yang kita hasilkan, sudah tentu kita makin produktif.

Berkaitan dengan solusi agar menjadi lebih produktif, ada satu artikel bagus yang dapat menjadi inspirasi Anda. Artikel tersebut berjudul 3 Gaya Hidup Sehat Demi Produktivitas Kerja. Silakan baca artikel tadi agar Anda semakin produktif.

Rekan pembaca sekalian, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Tulisan ini sekaligus juga menjadi pengingat bagi saya. Sudah saatnya kita terus berkarya, meningkatkan kualitas diri, dan menebar manfaat bagi semakin banyak orang.

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

 

kursus manajemen terlengkap

1 Comment

  1. aplikasi kwitansi

    mantap bang 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *