Berapa Besar Passive Income yang Didapat Seorang Penulis?

Pernahkah Anda membayangkan berapa besar passive income yang bisa didapatkan oleh seorang penulis buku?

Sebagian orang menilai bahwa profesi penulis tidak menjanjikan kehidupan yang layak. Hingga saat ini, masih ada paradigma bahwa profesi penulis sulit untuk diandalkan sebagai profesi utama guna memenuhi biaya hidup. Benarkah demikian?

Lantas, seberapa besar penghasilan seorang penulis? Sebera besar passive income yang bisa didapat bila berkarir sebagai seorang penulis?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, saya pun menulis tulisan berikut.

Mari nikmati tulisan menarik berikut bersama secangkir teh atau segelas kopi hangat. Ayo kita ulik sisi lain dari profesi seorang penulis. Mari kita cari tahu berapa besar passive income seorang penulis.

Penghasilan Utama Sebagian Besar Penulis Berasal dari Royalti

Sebagian besar penulis mendapatkan income dari royalti yang mereka terima dari penerbit. Royalti akan didapat apabila buku seorang penulis laku terjual. Jika buku sang penulis sama sekali tidak terjual, maka ia tidak akan mendapatkan royalti.

Berapa besar royalti?

Umumnya besarnya royalti di Indonesia adalah 10 %. Itu artinya, jika harga buku sang penulis adalah 50.000 Rupiah, maka royalti yang ia dapatkan adalah sebesar 5000 Rupiah per eksemplar. Bisa dibayangkan bila buku sang penulis laku sebanyak 2000 eksemplar, maka royalti yang ia dapat adalah sebesar 5000 x 2000 = 10.000.000 Rupiah.

Hanya saja, penghasilan tadi masih berupa penghasilan kotor. Di Indonesia, pajak royalti bagi pemilik NPWP adalah sebesar 15 %. Sedangkan bagi penulis yang tidak memiliki NPWP, pajak royaltinya  sebesar 30 %. Andaikan penghasilan dari royalti sang penulis adalah 10 juta Rupiah, maka ia akan membayar pajak sebesar 1,5 juta Rupiah. Dengan demikian, penghasilan bersihnya adalah 8,5 juta Rupiah.

Bagaimana cara seorang penulis bisa tahu jumlah penjualan bukunya?

Seorang penulis dapat mengetahui jumlah bukunya yang terjual berdasarkan data dari penerbit. Setiap kali membayarkan royalti penulis, penerbit akan memberikan surat rincian berisi data penjualan buku-buku penulis. Nah dari surat rincian tadilah seorang penulis bisa tahu seberapa banyak bukunya yang laku.

Selain mendapatkan income dari royalti, seorang penulis juga bisa memiliki sumber pendapatan alternatif lainnya. Ambil contoh sang penulis bisa saja mengisi seminar/workshop, lalu ia mendapatkan pemasukan dari sana. Pengalaman saya sebagai seorang trainer saat workshop, income yang didapat saat workshop cukup lumayan untuk menambah income dalam karir sebagai seorang penulis. Sekadar gambaran, untuk sekali workshop, penulis bisa dibayar dengan tarif di atas 1 juta Rupiah. Besarnya tarif ini tergantung dari profil si penulis. Semakin populer seorang penulis maka biasanya semakin mahal tarifnya.

Selain dari mengisi seminar/workshop, income lain dari seorang penulis juga bisa didapatkan dari kegiatan sebagai seorang konsultan. Saya sendiri juga termasuk penulis yang kerap memberikan layanan consulting untuk pembaca buku saya. Tak jarang, beberapa klien menggunakan jasa saya setelah mereka puas membaca buku-buku saya.

Intinya, agar bisa memiliki income yang mencukupi biaya hidup, seorang penulis perlu cerdik memanfaatkan peluang. Jadi sang penulis tidak hanya sekadar menulis demi royalti, tetapi juga bisa berbisnis bermodalkan kemampuan menulis.

Besarnya Passive Income Tergantung dari Seberapa Banyak Buku yang Laku

Semakin banyak buku yang laku maka tentu saja semakin besar passive income yang bisa didapat oleh seorang penulis. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besarnya royalti. Faktor tersebut antara lain :

  • harga buku,
  • jumlah penjualan buku,
  • besarnya pajak royalti.
Dewi Lestari, salah satu penulis yang harga bukunya di atas rata-rata.

Dewi Lestari, salah satu penulis yang harga bukunya di atas rata-rata.

Semakin mahal harga buku maka tentu saja nilai royalti seorang penulis juga akan naik. Penulis yang harga bukunya adalah 70 ribu jelas mendapatkan nilai royalti yang lebih besar dibanding penulis yang harga bukunya hanya 50 ribu. Kendati demikian, harga buku yang tinggi tidak menjamin bahwa royalti yang didapat akan tinggi. Sebab besarnya royalti juga tergantung dari seberapa banyak buku yang laku terjual.

Harga buku dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pasti harga buku sangat dipengaruhi oleh ongkos produksi buku tersebut. Semakin tebal sebuah buku, maka biasanya semakin besar pula ongkos produksi buku tersebut. Tak hanya dipengaruhi oleh ketebalan buku, ongkos produksi juga bisa tergantung dari jenis kertas, oplah cetak, dan banyak faktor lainnya. Selain itu, faktor nama penulis dan segmentasi pembaca juga sangat berpengaruh terhadap penentuan harga buku. Penulis-penulis yang populer cenderung lebih dikenal. Alhasil, buku yang ia tulis pun bisa saja berharga lebih mahal dibanding penulis yang belum populer.

Supaya Punya Passive Income yang Melimpah dari Menulis

Agar seseorang bisa menerima passive income yang melimpah dari menulis, maka ia perlu memastikan bahwa bukunya laku dalam jumlah yang besar. Syukur-syukur buku tersebut bisa mencapai level best seller dan terjual lebih dari 30.000 eksemplar. Dapat dibayangkan bila sebuah buku laku sampai 30.000 eksemplar dengan royalti 5000 per penjualan. Jika demikian maka penulis buku tersebut berhak atas royalti sebesar 150 juta Rupiah (belum dipotong pajak).

Bagi sebagian penulis, barangkali tidak mudah untuk mencapai level best seller. Nah untuk penulis-penulis seperti ini, solusi yang dapat ditempuh adalah dengan memperbanyak jumlah buku yang ditulis. Semakin banyak buku yang ditulis, maka tentu semakin besar pula peluang terjualnya lebih banyak buku.

Strategi inilah yang saya coba terapkan dalam karir kepenulisan saya. Sampai Maret 2015, saya sudah menulis 28 buku dengan topik internet marketing. Mengapa saya menulis sampai sebanyak itu? Ada beberapa alasan. Pertama, tentu saja karena buku internet marketing termasuk buku IT. Dan kita tahu sendiri bahwa dunia IT terus menerus berubah. Alhasil, secara berkala saya perlu memperbarui buku-buku yang saya tulis. Nah, bentuk pembaruan itulah yang hadir dalam berbagai judul baru yang saya terbitkan.

Selain karena alasan pembaruan, menulis puluhan buku juga berkaitan dengan strategi mencapai jumlah penjualan yang lebih tinggi lagi. Untuk niche-niche (topik-topik) tertentu, khsusunya topik yang sangat tersegmetasi, seorang penulis agak sulit untuk mencapai level best seller. Buku IT termasuk niche yang tersegmentasi dengan potensi jumlah pembaca yang relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan buku lain seperti novel, cara menjadi kaya, ataupun buku pengembangan diri. Ketika kita menulis buku dengan topik yang sangat tersegmentasi, jumlah penjualan yang didapat pun tidak sebesar buku-buku yang dicari oleh banyak orang. Tak heran, jika buku-buku yang sangat tersegementasi tadi bisa laku lebih dari 1000 eksemplar, itu merupakan angka yang lumayan.

Menulis banyak buku memungkinkan kita mendapatkan penjualan yang lebih banyak.

Menulis banyak buku memungkinkan kita mendapatkan penjualan yang lebih banyak.

Jika satu buku bisa laku 1000 eksemplar, maka tentu saja jika kita punya lebih dari 20 buku, total penjualan yang kita dapat bisa lebih dari 20.000 eksemplar. 🙂

Hanya saja, dunia tidak seideal itu. Sebab meskipun kita sudah menulis lebih dari 20 buku, 20 buku tadi tidak akan dijual sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Sudah pasti penerbit punya ketentuan dan aturan kapan buku kita bisa dijual. Jarang sekali kalau 20 buku tadi bisa dijual dalam periode waktu yang sama.

Bagaimana, Anda tertarik mengikuti jejak saya dengan meraih passive income dari menulis buku?

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

 

Sumber gambar : 401 (K) 2012.

Klik di sini jika Anda ingin dipandu langkah demi langkah untuk menjadi seorang penulis buku.

21 Comments

  1. luki tantra

    Weh

    Terima kasih sharingnya.
    Saya juga lagi berusaha untuk menulis buku.

    Salam kenal
    Luki transafe

  2. riena lestari

    Sy bkn lah seorang penulis, tp punya teman seorang penulis, sy ingin sekali pengalaman hidup sy terangkai dlm sebuah cerita, unt itu sy minta bantuan teman sy, dan dia jg sangat tertarik sekali, kira2 unt yg demikian, brp sy hrs byr ke teman sy yg penulis ya??? Makasih sblmnya

  3. Passive07 (Post author)

    @Riena Lestari.

    Untuk kondisi demikian, maka Ibu bisa menghire penulis (istilahnya ghostwriter). Ghostwriter ialah orang yang menuliskan buku berdasarkan ide/pengalaman kita. Biasanya, nama ghostwriter tidak dicantumkan dalam buku. Jadi, biasanya nama kita yang dicantumkan sebagai nama penulis.

    Hanya saja, dalam kondisi tertentu, bisa juga nama si ghostwriter ditampilkan.

    Kalau untuk tarif ghostwriter tentu tidak ada patokan pasti. Tergantung negosiasi antara klien dan ghostwriter. Biasanya bergantung pada tingkat kesulitan penulisan.

  4. wildan

    Makasih sharingnya ..
    Jadi tahu sekarang.

  5. honda bogor

    saya sudah miliki beberapa buku Pak Jef, saya merasa saya terbantu juga dengan membaca buku Pak Jef, terima kasih

  6. mas eko

    Saya selalu bercita-cita untuk menjadi penulis, tapi selalu terkendala waktu karena kesibukan pekerjaan saya? Kira2 berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis sebuah buku? Dan kira2 berapa jam sehari idealnya yang harus dialokasikan untuk membuat sebuah buku?

  7. Passive07 (Post author)

    @Mas Eko. Saya baru saja baca blog Mas, isinya menarik dan tampilannya fresh. 🙂 Pada dasarnya siapapun bisa jadi penulis, entah apa kesibukan dia. CEO sebuah perusahaan nasional pun bisa menulis beberapa buku. Kembali lagi kepada keinginan kita untuk memprioritaskan kegiatan menulis.

    Untuk waktu penulisan buku, tentu satu orang dengan orang lain bisa punya waktu yang berbeda-beda. Selain itu, jenis buku juga mempengaruhi lamanya proses penulisan. Contoh, untuk buku tutorial IT (seperti yang saya tulis), penulisannya hanya sekitar 1 – 2 bulan. Namun kalau untuk buku fiksi (seperti novel) biasanya butuh waktu yang lebih lama.

    Untuk alokasi waktu, bisa disesuaikan dengan kesibukan kita. Kalau saya biasanya menyempatkan waktu di pagi dan malam hari untuk menulis. Entah itu menulis blog ataupun buku. Intinya kita harus memiliki komitmen dan memprioritaskan kegiatan menulis.

  8. Wahyu surya

    Nice sharing. Saya jadi berminat menerbitkan nove saya.

  9. Leon

    Maaf pak jef ingin tanya,kalau kita sudah memiliki naskah,kita langsung mengirim saja ke gramedia atau harus konsultasi dahulu kepada pihak gramedia agar naskah dapat dibaca

  10. Syukron Abdul Ghoni

    bagaimana cara menggunakan passive income ?

  11. rakhmat

    saya selalu punya keinginan menulis (novel), tp sampai skrg msh sebatas keinginan..terkendala waktu dan pekerjaan..selain itu saya jg berpikir kalau tdk ada bakat, utk menulis fiksi..
    menurut mas jeffry seberapa besar bakat itu mempengaruhi?
    terima kasih

  12. Passive07 (Post author)

    @Rakhmat. Kalau dalam konteks penulisan buku secara umum, bakat memang penting. Hanya saja, latihan dan konsistensi jauh lebih penting. Bagi saya, menulis sama seperti keterampilan lainnya, dapat dilatih dan dikembangkan.

    Terlepas dari ada atau tidaknya bakat kita dalam bidang komunikasi/bahasa, latihan tetap yang lebih penting. 🙂

  13. diana anggie

    saya jg ingin menjadi penulis novel, wktu smp saya pernah membuat novel tp hanya sebatas dibaca teman sekelas saja, skrg pingin coba lagi, semoga bisa sukses seperti mas jefry ..

  14. LeaLova

    Makasih atas sharingnya bang bro.. bener2 membuka wawasan dan cakrawala ttg profesi penulis.

    Saya penulis junior yg baru mau merambah dunia penerbitan.

    Gimana prosedurnya memasukkan karya kita ke penerbit ya? Apakah ada biaya administrasinya?

  15. zaenal

    bang, aslm, sy jg seorg pnulis buku bahasa inggris, sy udah mngajukn buku ke pberbit, tapi di php in udh 2thn lbih….katanya konsep buku sy bagus,, grammar dng pndekatan bimbingan belajar, tebalnya 385 hl ukuran b5……tp disana jg ada plus2 dr saya yaitu materi reading…kira2 materi extravagant dr sy itu termasuk mnguntungkn tw justru merugikn? gmn srn spy buku sy laku

  16. Maha Deoh

    Permisi, ada dua hal yang ingin saya tanyakan.

    1. Menurut mas, kira2 bagaimana peluang pasar novel fiksi di indonesia? Karena, sepertinya novel2 yang bisa booming hanya religi dan inspiratif (kisah nyata), bagaimana dengan romance dan horor, misalnya?

    2. Sebenarnya penerbit hanya menerima naskah dengan formula yang sudah jelas laku di pasar atau punya keinginan untuk menerima naskah yang unik? misalnya, horor inspiratif (karena saya memang sedang menulis horor inspiratif yang meneropong fenomena kemiskinan di indonesia tapi dalam kemasan horor)

    3. Biasanya, untuk acara launching buku, penulis harus mengeluarkan berapa rupiah?

    Terima kasih banyak. Sukses selalu!

  17. Passive07 (Post author)

    @Zaenal
    Salam. Kalau boleh tahu ke penerbit mana ya?

    Jika sudah dua tahun, maka harusnya sudah ada kabar apakah naskahnya diterima atau tidak. Jika tidak diterima, maka bisa cari penerbit lain. Kalau saya boleh menyarankan, mungkin lebih baik cari penerbit lain Pak.

    Mengenai materi yang lengkap dan mendalam, buat saya, itu jadi nilai plus. Kenapa? Sebab makin banyak manfaat yang bisa didapat pembaca, maka mereka bisa makin menyukai buku kita. Jadi, kalau suatu saat kita kembali menerbitkan buku, pembaca tadi akan tertarik untuk membeli kembali.

  18. zaenal

    penerbit ruang kata, agromedia group

  19. Passive07 (Post author)

    @Lealova
    Untuk prosedurnya, biasanya kita bisa ajukan naskah dilengkapi dengan kelengkapan naskah (seperti halaman daftar isi, profil penulis, sinopsis, dsb). Namun setiap penerbit tentu punya prosedur atau syarat yang berbeda.

    Untuk itu, lebih baik ditanyakan langsung ke redaksi penerbitnya.

    Untuk biaya, jika kita menerbitkan melalui penerbit mayor (penerbit besar, spt : Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, dsb), maka kita tidak perlu mengeluarkan biaya. Sebab biaya produksi dan distribusi akan ditanggung mereka. Kita dapat royalti per penjualan. Namun kalau kita menerbitkan lewat penerbit vanity/penerbit berbayar, maka tentu kita harus membiayai produksi buku kita.

  20. Passive07 (Post author)

    @Maha Deoh

    Halo, berikut jawaban saya.

    1. Peluang Novel Fiksi
    Saya belum punya data konkret dan terbaru tentang penjualan novel di Indonesia. Bisa diakui, seperti yang Anda sebutkan bahwa novel religi dan kisah nyata booming di Indonesia. Novel Ayat-Ayat Cinta termasuk salah satu judul yang fenomenal di bidang ini.

    Kendati demikian, di luar kategori tadi, fiksi juga punya potensi yang besar. Saya penggemar Dee Lestari (terutama karya Supernovanya). Novel Dee tadi juga fiksi, namun penjualannya terbilang laris. Sebab memang Dee dikenal luas dan punya basis penggemar yang besar. Selain itu juga ada Eka Kurniawan, novelnya yang “Lelaki Harimau” juga populer dan digemari pasar.

    Jadi, menurut saya, tak jadi soal apa topik novel kita. Faktor paling penting ada pada kualitas karya terebut dan faktor si penulis.

    Untuk romance dan horror, saya kurang memperhatikan market Indonesia ya. Sebab saya kurang tertarik dengan topik novel semacam itu. Tapi untuk romance, setahu saya juga ada nama Ika Natassa, novel dia tampaknya sering laris di Gramedia.

    2. Formula Penerbit
    Wah kalau hal itu, barangkali tiap penerbit punya kebijakan yang berbeda ya. Tergantung editornya juga. Mau ambil risiko, atau sekadar ikut formula yang sudah pasti laku di pasaran. Namun kalau dari pengalaman saya sebagai penulis non fiksi (di bidang IT), penerbit saya cenderung ikut formula yang sudah laris. Dalam arti, mereka menilai kira-kira buku ini ada permintaannya di pasar atau tidak. Kalau sekiranya marketnya ada, baru mereka berani terbitkan.

    Kalau soal inspirasi, mungkin Dee Lestari bisa jadi inspirasi. Setahu saya, dulu dia menerbitkan Supernova secara self publishing. Ternyata percobaannya dengan fiksi ilmiah itu (sekitar awal 2000’an, mungkin 2001) sukses dan kini novelnya digemari.

    Saran saya, barangkali ide dan naskah novel Anda bisa didiskusikan dengan editor dari penerbit yang kira-kira ingin dituju. Kontak redaksinya, tanyakan prosedur penerbitan, dan bisa mulai coba diskusi.

    3. Rupiah Untuk Launching Buku
    Untuk launching buku bisa inisiatif dari penulis ataupun penerbit. Biasanya, penerbit mau mengadakan launching untuk penulis-penulis favorit/sudah punya nama. Nah, kalau kita masih baru/belum dikenal, maka mau tidak mau, harusnya kita yang proaktif untuk mengadakan launching. Dengan demikian, kita yang harus persiapkan proses launchingnya. Besarnya nilai Rupiah yang dikeluarkan tentu tergantung dari skala acara kita.

    Kendati demikian, penerbit tentu akan tetap support. Misalkan mereka bantu beri tempat, bantu support untuk penjualan buku. Untuk biaya, mungkin biaya tempat (kalau pakai toko buku, mungkin penerbit bisa memfasilitasi), biaya konsumsi peserta yang hadir (kalau mau diadakan konsumsi), undang media, dsb. Teman saya pernah bikin launching buku di kampus. Dia kerja sama sama kampus/almamaternya. Tampaknya biaya yang dikeluarkan tidak besar.

    Saya sendiri belum pernah mengadakan launching. Saya hanya gencarkan promosi secara online dan dukungan penjualan dari penerbit.

  21. Deoh

    Untuk masalah launching, kira-kira rentang rupiahnya berapa sampai berapa? Karena saya ada rencana (kalau novel saya bisa terbit) dan saya benar2 buta mengenai masalah biaya. Nah, di sini saya ingin tanya harga agar bisa mengantisipasinya. Berapa rentangnya kira2?
    Maaf merepotkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *