Bisnis Berbasis Komunitas : Jadikan Komunitas Sebagai Aset Anda

bisnis berbasis komunitas

Banyak teman, banyak rezeki.

Begitulah kata pepatah.

Menurut saya, ini merupakan sebuah pepatah yang sangat visioner dan bahkan bisa melintasi waktu. Entah tahun berapa pepatah ini pertama kali dicetuskan. Namun, pepatah banyak teman banyak rezeki tetaplah relevan dan justru kian menjadi-jadi di era sekarang.

Keberadaan media sosial benar-benar memudahkan orang-orang untuk berinteraksi. Ketika terjadi interaksi, maka terciptalah komunikasi. Hadirnya komunikasi menjadikan terbentuk yang namanya komunitas.

Komunitas, sebuah kata yang banyak disorot dalam dunia bisnis. Pakar-pakar marketing pun sudah berkali-kali menyebut bahwa sekarang adalah era pemasaran melalui komunitas. Komunitas (kumpulan orang-orang) punya pengaruh yang sangat penting bagi kesuksesan marketing.

Hal ini benar adanya. Komunitas merupakan aset yang sangat berhaga di era bisnis saat ini. Lantas, bagaimana cara meraup untung dari komunitas? Bagaimana cara menjadikan komunitas sebagai sebuah aset? Temukan jawabannya dalam tulisan kali ini.

Komunitas = Sumber Uang Anda

Menurut Wikipedia, komunitas adalah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Secara sederhana, saya mengartikan komunitas sebagai kumpulan orang-orang yang berkumpul karena tujuan tertentu.

Ada komunitas pecinta lingkungan, ada komunitas keagamaan, ada komunitas hobi tertentu, macam-macam. Intinya mereka berkumpul karena satu tujuan.

Keberadaan komunitas kian terwadahi di era media sosial. Ketika kita menggunakan Facebook, dengan mudahnya kita menjumpai berbagai grup di Facebook. Nah, grup di Facebook termasuk salah satu wujud komunitas.

Grup di Facebook termasuk salah satu bentuk komunitas.

Grup di Facebook termasuk salah satu bentuk komunitas.

Di dalam komunitas terdapat orang-orang. Di mana ada orang, di situ ada potensi pembelian. Kita semua tahu bahwa setiap orang memiliki kebutuhan masing-masing. Guna memenuhi kebutuhannya, orang-orang akan membeli (megonsumsi). Ketika seseorang melakukan proses konsumsi maka di situlah terjadi transaksi.

Singkatnya, komunitas merupakan aset yang dapat mengalirkan uang ke kantong Anda. Tentu saja dengan catatan Anda mampu memonetisasi komunitas tersebut.

Saya akan memberikan contoh sederhana.

Jika Anda pernah tinggal di kota kecil (misalkan seperti di kota asal saya, Lubuklinggau), Anda pasti pernah menjumpai resepsi pernikahan yang kerap digelar di perkampungan. Orang-orang di sana kerap kali mengadakan hajatan, yang mana lokasi hajatan tersebut ada di kampung-kampung. Jika diperhatikan, setiap kali ada hajatan pasti akan ada orang-orang yang berjualan di sekitar lokasi hajatan tersebut. Mulai dari pedagang makanan, pedagang mainan, dan lain sebagainya.

Intinya, di mana ada keramaian maka di situ pula kerap muncul para pedagang.

Itulah salah satu bentuk sederhana dari bisnis berbasiskan komunitas. Di mana ada keramaian di situ ada pedagang.

Kini, komunitas (keramaian) dapat dimonetisasi dengan beragam cara. Dari cara yang sederhana (seperti jualan di sekitar lokasi hajatan), sampai monetisasi yang lebih kompleks.

Beragam Model Bisnis Berbasis Komunitas

Apakah Anda tahu bagaimana cara Facebook menghasilkan uang?

Ya, betul. Facebook menghasilkan uang melalui program periklanan Facebook Ads. Melalui Facebook Ads, siapapun bisa beriklan di Facebook. Entah itu pelaku bisnis, politisi, publik figur, ibu rumah tangga, siapapun bisa beriklan di Facebook. Nah dari sinilah pendapatan Facebook berasal. Facebook Ads menjadi semacam “mesin uang” dari Facebook.

contoh iklan Facebook

Contoh sebuah iklan di Facebook.

Mengapa orang-orang mau beriklan di Facebook? Jawabannya karena Facebook adalah sebuah komunitas (keramaian) yang sangat besar. Milyaran orang menggunakan Facebook.

Bayangkan Facebook sebagai sebuah “lokasi hajatan” yang didatangi oleh milyaran orang dari seluruh dunia. Sudah tentu dengan “hajatan” sebesar itu, Facebook menjadi aset yang sangat besar.

Periklanan online merupakan salah satu bentuk model bisnis yang mengandalkan komunitas. Facebook bisa menghasilkan uang karena ada komunitas pengguna Facebook.

Contoh lain misalkan marketplace seperti Tokopedia. Tokopedia merupakan marketplace yang dapat digunakan oleh orang-orang untuk berjualan online. Sebagai sebuah marketplace, Tokopedia adalah komunitas tempat berkumpulnya para pedagang online.

Situs Tokopedia.com.

Situs Tokopedia.com.

Bagaimana cara Tokopedia menghasilkan uang?

Tokopedia memiliki program periklanan sendiri. Melalui program periklanan Tokopedia inilah, orang-orang dapat mengiklankan produknya di Tokopedia.

Mengapa orang mau beriklan di Tokopedia? Karena Tokopedia ramai (ingat, keramaian bisa saja menjadi sebuah komunitas).

Contoh lain misalkan seperti pengembang properti. Pengembang properti yang besar (misalkan Summarecon) tidak sekadar membangun properti (misal perumahan) saja. Lebih dari itu, mereka membangun komunitas di wilayah yang mereka kembangkan. Misalkan seperti di daerah Serpong (Tangerang). Di daerah ini tidak hanya dibangun perumahan. Lebih dari itu, di sini dibangun berbagai mal, kantor, kampus, rumah sakit, dan berbagai fasilitas lainnya.

Kampus UMN (Universitas Multimedia Nusantara) merupakan salah satu kampus di kawasan Serpong.

Kampus UMN (Universitas Multimedia Nusantara) merupakan salah satu kampus di kawasan Serpong.

Apa yang dilakukan oleh para pengembang properti tadi adalah membangun komunitas. Ketika komunitas itu tumbuh (contohnya seperti Gading Serpong), maka mereka bisa jualan properti dengan lebih dahsyat. Ketika komunitas tadi ramai, mereka bisa menjual ruko atau kantor. Sudah tentu, karena berlokasi di wilayah yang ramai, ruko, kantor, atau properti yang mereka jual/sewakan akan laris manis.

Contoh lain model bisnis berbasis komunitas misalnya seperti berikut ini.

Belakangan ini kerap bermunculan komunitas-komunitas bisnis. Komunitas bisnis ini berisi orang-orang yang punya minat di bidang bisnis (entrepreneurship). Komunitas ini kerap kali mengadakan kopi darat, mengadakan seminar, dan berbagai macam event lainnya.

Nah, ada kalanya keberadaan komunitas ini dimanfaatkan oleh para pendiri komunitas tersebut untuk menghasilkan uang. Salah satu caranya misalnya pendiri komunitas mengajak anggota komunitasnya untuk gabung di MLM yang ia ikuti. Alhasil, karena ia adalah pemimpin komunitas tersebut, banyak anggota komunitas yang akhirnya ikut MLM tadi. Ini merupakan salah satu model bisnis yang lagi-lagi memanfaatkan keberadaan komunitas.

Intinya, ketika Anda memiliki sebuah komunitas yang besar, Anda punya potensi besar untuk menghasilkan uang melalui komunitas tersebut. Dengan menggunakan model bisnis yang tepat, Anda bisa meraup income dalam jumlah besar dari komunitas tersebut.

Lantas, Langkah Apa yang Perlu Diambil?

Kedepannya, keberadaan komunitas akan semakin berpengaruh terhadap proses marketing. Komunitas adalah sarana marketing yang sangat ampuh. Orang-orang lebih mudah percaya kepada ucapan teman mereka. Apa yang teman kita katakan, itulah yang cenderung kita percayai. Kalau teman (sesama komunitas Anda) bilang bahwa restoran A enak, Anda tentu tertarik mencoba makan di restoran A. Kalau teman Anda bilang produk B bagus, Anda cenderung lebih memilih untuk memakai produk B.

Alhasil, proses marketing akan sangat bergantung pada komunitas.

Ketika iklan-iklan di TV tidak sekuat dulu, maka komunitaslah yang akan dipakai oleh para marketer untuk memasarkan produk mereka. Dominasi iklan televisi/media arus utama tidaklah sekuat dulu. Dengan semakin banyaknya media alternatif (seperti blog, forum, BBM, Facebook, dsb), komunitas semakin dibutuhkan dalam kegiatan marketing.

Nah di sinilah peluang tercipta untuk kita semua.

Jika kita mampu membangun sebuah komunitas yang besar, maka ada banyak peluang bisnis yang bisa kita manfaatkan. Bisa jadi, perusahaan tertentu akan membayar kita agar mereka bisa masuk ke komunitas kita. Bisa juga perusahaan meminta kita untuk meng-endorse produk mereka ke komunitas kita.

Ingat, sebuah komunitas dapat dijadikan sebagai aset Anda. Di mana ada keramaian, maka di situ kita bisa berjualan.

Bagaimana cara membangun komunitas?

Berita baiknya, kita tidak harus menggelontorkan ratusan milyar untuk membangun sebuah komunitas. Bermodalkan hal-hal sederhana pun kita sudah bisa membangun komunitas. Contohnya kita bisa membangun komunitas dengan memanfaatkan grup di Facebook. Kita juga bisa membangun komunitas melalui blog yang kita miliki.

Contoh paling sederhana misalnya seperti yang saya lakukan di JagoanPassiveIncome. Tidak hanya menyajikan konten lewat blog JagoanPassiveIncome, saya juga menyediakan grup JagoanPassiveIncome di Facebook. Melalui grup ini, para pembaca JagoanPassiveIncome bisa saling berinteraksi dan berbagi. Alhasil tercipta interaksi yang menjadikan komunitas ini hidup.

Nah, grup JagoanPassiveIncome ini termasuk salah satu bentuk komunitas.

grup JagoanPassiveIncome

Grup JagoanPassiveIncome di Facebook.

Hal yang sama juga dapat Anda terapkan. Anda bisa memulai membangun komunitas dari hal yang terdekat dengan Anda. Contoh jika Anda adalah praktisi bisnis online, maka Anda dapat membangun komunitas bisnis online. Jika Anda adalah praktisi marketing maka Anda bisa membangun komunitas marketing. Nantinya, dari langkah sederhana tersebut, komunitas Anda akan semakin besar. Semakin besar sebuah komunitas, maka semakin banyak peluang bisnis yang bisa tercipta.

Selamat berbisnis berbasis komunitas, salam super sukses!

Jefferly Helianthusonfri

 

kursus bisnis terlengkap

5 Comments

  1. djonavicena

    Terima kasih Masbro sangat isnpiratif untuk dilaksanakan dan seger dicoba untuk komunitas saya di pecinta kereta api
    Kedua ini saya lagi bangun web http://jualrumahdidepok.com Masbro
    kalau usaha Jual Rumah dan Ruko di Depok itu komunitasnya yang mendekati apa ya Maasbro..

    Terima kasih

  2. nanda

    Nambah ide
    Sungguh menginspirasi

  3. prambudi

    dapat email dari mas jeff, langsung buka dan baca..
    langsung deh dapat inspirasi buat bikin komunitas..
    keren mas, trimakasih sudah berbagi..

  4. febrian surya

    klo sekarang mulai menggeluti promosi lewat fb fan page, google plus, dll.

    tapi saya masih belum paham, bagaimana cara menyaring orang banyak..

    terima kasih

  5. Siti Nurjanah

    Terima Kasih Pak Jef, sangat menginspirasi

    Salam Super Sukses..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *