Cara Menjadi Kaya : Fokus Pada Aset Bukan Liabilitas

Hampir semua orang ingin menjadi kaya. Bagaimana cara menjadi kaya?

Apa hal pertama yang harus kita miliki kalau mau jadi orang kaya? Temukan jawabannya dalam pembahasan menarik pada tulisan berikut ini.

Ada satu pertanyaan yang kerap kali timbul dalam benak saya. Apa motivasi orang tua meminta anaknya bersekolah dengan baik?

Sudah pasti tujuan orang tua menyuruh anaknya bersekolah dengan baik adalah agar anaknya mendapatkan nilai yang bagus.

Asumsi sebagian orang tua adalah ketika anak mereka punya nilai yang bagus, mereka (anak-anak tadi) akan menjadi siswa teladan. Dalam benak mereka, siswa teladan (pandai) akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti.

Setelah dapat pekerjaan, maka siswa yang pandai akan menapaki tangga karir yang cemerlang, punya gaji yang bagus dan bisa hidup dengan nyaman.

Sayangnya mungkin orang tua lupa bahwa krisis ekonomi bisa datang dan menyapu bersih perusahaan tempat si anak bekerja. Orang tua juga mungkin lupa dengan inflasi dan berbagai krisis ekonomi suatu saat bisa menghadirkan badai dalam kehidupan finansial sang anak. Hal ini sudah pernah saya singgung dalam fenomena negeri dongeng menurut orang tua di artikel ini : Cara Menjadi Orang Kaya : Panduan Lengkap Menjadi Orang Kaya.

Orang tua ingin anaknya menjadi siswa teladan supaya si anak punya masa depan finansial yang baik.

Singkatnya, orang tua ingin si anak hidupnya sejahtera dan kaya. Itulah tujuan orang tua.

Nah pertanyaannya begini, jika orang tua ingin anaknya hidup sejahtera dan kaya, mengapa sekolah jarang sekali mengajarkan tentang kekayaan dan pendidikan finansial bagi sang anak?

Alih-alih mendidik anak menjadi seorang kapitalis, guru ekonomi malah “memaksa” siswa untuk tahu teori ekonomi dan dapat nilai 100 di ulangan/ujian. Apakah nilai 100 di ujian yang dikumpulkan bisa membuat seseorang membeli rumah seharga 2 milyar di Gading Serpong atau Jakarta?

Untuk itulah kita perlu memiliki pola pikir orang kaya. Tak hanya sekadar memiliki mindset orang kaya, anak-anak kita pun harus dibekali dengan mindset orang kaya.

Ada banyak mindset orang kaya, beberapa diantaranya sudah saya bahas di artikel berikut :

  1. Anda adalah Apa yang Anda Baca.
  2. Cara Jadi Pebisnis Sukses : Jadikan Bisnis Sebagai Sebuah Permainan.
  3. Cara Mengatasi Rasa Takut Gagal dalam Berbisnis.

Nah pada tulisan kali ini saya akan kembali membahas mindset orang kaya. Salah satu mindset yang wajib dimiliki kalau kita ingin kaya adalah fokus pada aset bukan pada liabilitas. Orang kaya itu adalah orang yang punya banyak aset dan punya sedikit liabilitas. Seseorang hanya bisa kaya kalau ia menghasilkan banyak uang dan uang yang dikeluarkan lebih sedikit dari yang dihasilkan.

Beda antara Aset dan Liabilitas

Orang tua ingin kita kaya dan sejahtera semuda mungkin, sayangnya sekolah malah jarang mengajarkan tentang kekayaan kepada kita. Berapa sering guru dalam sistem pendidikan kita menyebut kata “aset” dan “liabilitas”?

Tanpa memahami beda antara aset dan liabilitas maka seseorang akan sulit untuk menjadi kaya.

Hal pertama yang harus dipahami adalah beda antara aset dan liabilitas.

Aset adalah segala sesuatu yang memasukkan uang ke kantong kita. Sedangkan liabilitas adalah segala sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantong kita.

Mobil itu aset atau liabilitas?

Tergantung.

Kalau mobilnya dipakai untuk bisnis, misalkan mobilnya disewakan sebagai angkutan travel maka mobil tersebut adalah aset. Mengapa? Karena mobil tersebut menghasilkan uang untuk si pemiliknya. Di sisi lain, mobil akan jadi liabilitas (beban) kalau mobil tersebut tidak dipakai dan terpakir di garasi. Biaya perawatan, biaya bensin, pajak, semuanya akan menjadi beban yang mengeluarkan uang dari kantong kita.

Rumah pun juga demikian.

Ketika sebuah rumah disewakan maka rumah menjadi aset. Mengapa? Karena rumah yang disewa akan mengalirkan uang ke kantong kita. Lain halnya kalau rumah itu kita tempati sendiri, rumah tersebut membutuhkan biaya (biaya air, listrik, pajak, dan sebagainya). Dalam kondisi tersebut, rumah menjadi liabilitas.

Ya pengertian aset dan liabilitas memang sederhana itu. Tidak butuh nilai 100 di ujian matematika untuk memahami beda antara keduanya.

Kaya = Banyak Menghasilkan Tetapi Sedikit Mengeluarkan

Sebuah perusahaan bisa dikatakan untung kalau pendapatan perusahaan itu lebih besar daripada pengeluaran perusahaan tersebut. Lagi-lagi rumusnya sederhana.

Profit = omzet – biaya.

Contoh, sebuah perusahaan menghasilkan penjualan sebesar 100 juta Rupiah dalam satu bulan. Total biaya yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan tersebut selama 1 bulan adalah 50 juta Rupiah. Dengan demikian, profit perusahaan itu sebesar 50 juta Rupiah. Semakin tinggi profit suatu perusahaan maka semakin besar pula pertambahan modal perusahaan tersebut. Dalam akuntansi, semakin besar modal dan semakin sedikit utang maka semakin besar nilai perusahaan tersebut.

Demikian juga dengan orang kaya.

Pertambahan kekayaan = pemasukan – pengeluaran.

Semakin banyak yang Anda hasilkan plus semakin sedikit yang Anda keluarkan maka pertambahan kekayaan Anda akan makin besar. Semakin besar pertambahan kekayaan maka sudah tentu semakin kaya pula Anda.

Bagaimana cara meningkatkan pemasukan?

Apakah dengan bekerja lebih keras dan lembur lebih lama?

Ya itu adalah cara menambah pemasukan versi orang-orang non kapitalis (alias kaum pekerja).

Bagi orang-orang kaya (kapitalis), untuk menambah pemasukan maka mereka harus memperbanyak aset. Alih-alih menukarkan tenaga dan waktu mereka untuk uang, orang kaya justru menggunakan tenaga, waktu, dan bahkan uang mereka untuk memperbanyak aset. Semakin banyak aset yang kita miliki maka semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong kita.

Intinya, aset adalah segala sesuatu yang menghasilkan uang ke kantong Anda.

Intinya, aset adalah segala sesuatu yang menghasilkan uang ke kantong Anda.

Lantas, seperti apa aset yang dimiliki orang kaya?

Sudah jelas bahwa aset-aset yang dimiliki adalah segala sesuatu yang menghasilkan uang bagi si pemilik aset. Aset-aset orang kaya biasanya berupa :

  • bisnis mereka yang terus tumbuh dan dapat berjalan secara otomatis,
  • properti milik mereka yang terus menghasilkan uang sewa,
  • royalti atas hak cipta yang mereka miliki.

Daripada bekerja keras untuk lembur dan menambah pekerjaan, ada baiknya kita fokus pada aset-aset tadi (seperti properti yang disewakan, royalti, dan bisnis). Kalau pekerjaan kita hanya menghasilkan gaji tapi tidak membentuk aset maka bisa dibilang itu bukan pilihan yang tepat untuk menjadi kaya. Ingat, orang kaya fokus pada aset. Fokuslah untuk membangun aset.

Berfokuslah Pada Aset

Banyak orang sukses dan kaya mengatakan bahwa nilai sekolah itu bukan yang paling penting. Mengapa?

Karena nilai sekolah bukanlah aset. Nilai sekolah tidak memasukkan uang ke kantong kita. Mindset orang kaya adalah fokus pada aset. Dengan demikian, orientasi mereka adalah pertumbuhan aset, bukan pada berapa banyak gaji mereka. Bahkan orang kaya itu tidak butuh gaji. Mengapa? Karena mereka mendapatkan uang dari aset bukan dari gaji.

Semenjak memiliki pemikiran dan orientasi pada aset, saya jadi tidak terlalu memusingkan berapa tinggi IPK saya. Saya termasuk beruntung karena IPK saya cukup lumayan (semester lalu IPK saya 3,77). Meskipun IPK saya (kata orang) lumayan tinggi, saya tidak terlalu peduli. Kalau angka itu bagus berarti orang tua saya senang. Hanya saja saya memilih bersikap biasa saja. Saya lebih senang kalau aset saya terus bertambah. Alih-alih belajar mati-matian demi IPK 4, saya lebih memilih menginvestasikan waktu, tenaga, dan uang saya untuk pertumbuhan aset.

Bagi saya, IPK 3,7 tidak terlalu menarik.

Bagi saya, IPK 3,7 tidak terlalu menarik. Saya lebih peduli kalau pertumbuhan aset saya 37 % per tahun. He..he..he

Rekan pembaca sekalian, inilah mindset yang perlu ditanamkan pada diri dan anak-anak kita. Kalau mau hidup kaya dan sejahtera maka salah satu orientasi kita adalah berfokus pada membangun aset. Jika tenaga, waktu, dan uang yang kita korbankan bukan untuk membangun aset maka dari aspek finansial itu merupakan sebuah pemborosan.

Semakin banyak aset maka sudah pasti semakin banyak pula orang yang bisa Anda bantu.

Semakin besar profit maka sudah tentu semakin besar pula dana CSR yang dapat kita keluarkan untuk membiayai pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Semakin banyak bisnis yang kita miliki maka mudah-mudahan semakin banyak pula lapangan kerja yang dapat kita buka.

Semakin banyak produk berkualitas yang kita hasilkan maka semakin banyak orang yang dapat menikmati pelayanan kita. Bukankah hal-hal itu tadi justru menjadi penebar manfaat bagi sesama?

Ingat, sebaik-baiknya pribadi adalah yang bermanfaat bagi sesama. 🙂

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

Sumber gambar : Wolfgang Staudt.

panduan lengkap meraih kebebasan finansial

1 Comment

  1. teddy

    Like A Robert T kiyosaki.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *