Ingin Memulai Jadi Pembicara? Perhatikan 4 Tips Ini

Menjadi pembicara, merupakan profesi ataupun kegiatan sampingan yang layak untuk ditekuni. Selain bisa berbagi ilmu, menginspirasi banyak orang, Anda juga bisa mendapatkan tambahan income dari kegiatan tersebut.

Bagi Anda para penulis, praktisi bidang tertentu, dosen, pengusaha, tentu akan kian menarik jika Anda juga mampu menjadi pembicara untuk menginspirasi banyak orang.

Ingin memulai jadi pembicara? Berikut empat tips dari saya.

Awal Mula Saya Belajar Menjadi Pembicara

Ketika SMP saya sering menonton acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Akibat menonton acara tersebut, saya jadi terinspirasi ingin menjadi pembicara publik seperti Mario Teguh. Kesempatan pun datang ketika saya SMA. Saat SMA kelas dua (di tahun 2013), saya pertama kali mengisi seminar di Jambi. Waktu itu, saya mengisi seminar tentang memulai bisnis online. Semenjak hari itu, saya makin sering menjadi pembicara di berbagai tempat dan membawakan berbagai topik.

Topik-topik yang kerap saya bicarakan antara lain seputar menulis dan digital marketing (SEO, Facebook marketing, email marketing, dan pengelolaan website). Kota-kota seperti Jakarta, Solo, Bandung, sudah saya sambangi untuk membicarakan topik-topik tadi. Tak hanya seminar/workshop offline, saya pun beberapa kali mengisi webinar (web seminar). Menjadi pembicara di webinar memberikan kesan yang berbeda dengan menjadi pembicara offline. Di webinar, kita tidak berhadapan langsung dengan audiens, tapi menjumpai audiens lewat internet. Tanya jawab pun dilakukan lewat Twitter atau sosial media lain.

Bagaimana cara saya memulai sebagai seorang pembicara?

Saya mengawali dari aktif menulis buku. Ketika kelas dua SMA itu, saya sudah menulis beberapa buku tentang internet marketing. Alhasil, suatu hari salah satu pembaca buku saya menghubungi. Ia meminta saya untuk mengisi seminar di Jambi. Rencana awalnya waktu itu adalah membuat seminar dan workshop. Namun sayang, di kesempatan pertama itu saya hanya mengisi seminar dan tidak jadi mengadakan workshop. Hal ini dikarenakan jumlah peserta workshop yang tak cukup. 🙂

Di kesempatan-kesempatan lain pun, kebanyakan yang mengundang saya untuk berbicara adalah para pembaca buku. Entah itu mereka yang berasal dari kalangan mahasiswa, pengusaha, ataupun praktisi bidang tertentu. Dari berbagai pengalaman tadi, saya belajar empat hal penting. Empat hal penting itu antara lain sebagai berikut.

1. Tentukan Hak dan Kewajiban

Dalam bisnis, perjanjian harus jelas. Termasuk dalam kerja sama untuk menjadi pembicara. Sebelum memutuskan untuk mengisi suatu acara, pastikan Anda mendiskusikan hak dan kewajiban secara jelas. Tanyakan pada panitia/penyelenggara, apa saja yang harus Anda siapkan, apa saja yang harus Anda lakukan, dan seperti apa materi apa yang akan dibawakan. Lakukan komunikasi secara gencar di awal. Jika Anda tertarik mengisi acara tersebut, maka Anda bisa bertemu dengan panitia. Diskusikan konsep acaranya, siapa audiens, dan apa materi yang harus Anda bawakan. Kalau perlu, Anda diskusikan outline (kerangka pokok-pokok) materi Anda pada panitia.

Selain itu, ajukan juga hak-hak yang Anda inginkan. Contoh hak ini misalnya hak untuk akomodasi, transportasi, peralatan yang Anda butuhkan, fee, dan lain sebagainya. Bicarakan hak dan kewajiban ini agar jelas, sehingga kedua pihak tidak merasa dirugikan dalam kerja sama tersebut.

Berdasarkan pengalaman saya, biasanya pihak panitia/penyelenggara yang akan menghubungi saya. Mereka akan mulai mengontak saya via email ataupun media sosial. Untuk komunikasi awal, saya hanya melayani komunikasi via medsos atau email (saya prefer ke email). Hal ini saya pelajari dari Dee Lestari (seorang penulis yang terkenal, salah satunya ia menulis serial novel Supernova). Dengan komunikasi via email, kita tidak gampang memberikan nomor ponsel kita ke publik. Selain itu, dengan komunikasi melalui email, semua kegiatan komunikasi akan terdokumentasi.

Ketika konsep acara sudah jelas, hak dan kewajiban sudah jelas/hari acara sudah dekat, barulah kegiatan komunikasi bisa dilakukan secara personal lewat chat ataupun sms. Tapi hari gini, harusnya via chat ya. Kan aplikasi chat sudah banyak. 🙂

2. Perjanjian Soal Biaya

Ketika saya baru memulai sebagai pembicara, saya tidak memikirkan soal tarif. Bagi saya waktu itu, yang penting saya mendapatkan kesempatan untuk belajar, plus akomodasi + transportasi sudah tersedia. Namun seiring berlalu waktu, saya tidak lagi berbicara secara gratisan (he..he..he), pihak panitia ataupun penyelenggara memberikan insentif berupa fee.

Besarnya fee ini tergantung dari jenis materi yang dibawakan, konsep acara, dan lamanya waktu Anda tampil.  Jika hanya mengisi seminar selama lebih kurang 2 jam, tentu tarifnya tak terlalu tinggi. Namun akan berbeda jika kita mengisi workshop selama 1 hari (dari pagi sampai sore). Untuk sistem fee, penyelenggara biasanya menggunakan cara ini :

  • Fee tetap, yakni biaya sudah ditetapkan di awal. Anda akan mendapatkan bayaran sebesar perjanjian di awal. Contoh, untuk satu sesi selama 3 jam, Anda dibayar 1 juta Rupiah.
  • Fee tergantung dari jumlah peserta, yakni bayaran Anda ditentukan dari seberapa banyak peserta yang hadir. Untuk setiap peserta, Anda akan mendapatkan bayaran tertentu. Misalkan jika per peserta Anda mendapatkan 50 ribu, peserta yang hadir 50 orang, maka bayaran Anda adalah 50 ribu x 50 orang = 2,5 juta Rupiah.

Sebelum memutuskan untuk menjadi pembicara, bicarakan dulu soal fee dengan penyelenggara. Atau, alternatif lainnya adalah Anda sudah mematok tarif sedari awal. Jadi, penyelenggara yang harus menyesuaikan budget mereka dengan tarif Anda.

Kendati demikian, perbincangan soal tarif ini bisa berbeda-beda. Tentu, untuk acara yang sifatnya bukan untuk komersial (misal : acara amal), kita tidak harus mematok fee. Apalagi jika Anda memang mau secara sukarela hadir dan mendukung suatu acara, maka tentu tidak harus ada biaya pembicara yang dikeluarkan penyelenggara.

3. Lakukan Evaluasi

Hal penting lain adalah lakukan evaluasi tiap kali Anda selesai mengisi suatu acara. Di akhir acara, Anda bisa membagikan kuesioner guna mengevaluasi kinerja Anda. Dalam kuesioner tersebut, Anda bisa menanyakan seputar kelengkapan materi, kejelasan cara Anda membawakan materi, daya tarik Anda sebagai pembicara, kejelasan Anda dalam menjawap pertanyaan, apakah ekspektasi audiens terpenuhi, dan lain sebagainya.

Form evaluasi ini bisa Anda sediakan sendiri. Atau, jika panitia sudah menyediakan, maka Anda bisa meminta data evaluasi dari panitia tersebut untuk Anda. Evaluasi ini penting agar Anda tahu apa saja hal-hal yang harus Anda tingkatkan di waktu yang akan datang.

4. Lakukan Follow-Up dengan Panitia ataupun Peserta

Jangan lupa untuk melakukan follow-up ataupun tetap berkomunikasi dengan panitia dan peserta. Hal ini lebih bertujuan untuk membangun relasi. Siapa tahu di waktu yang akan datang panitia akan kembali mengundang Anda untuk acara atau kerja sama lain.

Yang lebih penting adalah jalin komunikasi dengan peserta. Kenapa? Sebab mereka adalah konsumen Anda. Bagi saya, kegiatan mengisi seminar/workshop/talkshow merupakan ajang promosi dan membangun relasi. Selain bisa berbagi, kita bisa mempromosikan produk/bisnis kita (tentu promosinya bisa secara soft selling). Bukan tak mungkin jika suatu hari peserta seminar/workshop kita kelak akan jadi customer/klien kita.

Hal yang bisa saya lakukan adalah menampilkan alamat kontak saya di presentasi. Kontak yang saya berikan biasanya berupa akun media sosial (terutama Twitter) dan email. Selain itu, saya juga mengajak audiens untuk menghubungi saya jika ada yang kurang jelas atau ingin didiskusikan.

Cara lain yang saya gunakan adalah mengajak peserta untuk mengunduh materi presentasi saya di website. Jadi, saya arahkan audiens untuk mengunjungi website saya. Di web tersebut, saya mengumpulkan email. Alhasil, di waktu yang akan datang saya masih tetap bisa mengontak audiens tadi.

Kegiatan mengumpulkan alamat email yang saya lakukan di salah satu web.

Sebelum ataupun sesudah acara, Anda juga bisa ngobrol dengan audiens. Ngobrol ini dapat dilakukan guna membangun interaksi dan menjadikan diri Anda kian akrab dengan audiens.

Nah teman-teman, itulah beberapa tips dari saya terkait memulai jadi pembicara. Semoga sharing ini menginspirasi dan Anda sukses sebagai pembicara.

Jefferly Helianthusonfri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *