Inspiratif : Pelajaran Bisnis dari Masyarakat Yogyakarta

Yogyakarta, salah satu kota yang sangat spesial dan dirindukan banyak orang. Akhir Agustus 2015 lalu, saya menghabiskan waktu selama 3 hari di kota gudeg ini. Sejak pertama kali mengunjungi Yogyakarta, saya langsung jatuh cinta dengan kota dan masyarkatnya.

Ada banyak pengalaman menarik yang saya jumpai ketika berlibur di kota Yogyakarta. Tak hanya mendapatkan kegembiraan, saya juga mendapatkan banyak pelajaran bisnis nan inspiratif dari masyarakat Yogyakarta.

Apa saja hal menarik yang saya pelajari dari masyarakat Yogyakarta? Apa saja pelajaran bisnis dari masyarakat Yogyakarta? Mari kita ulas di tulsisan berikut ini.

1. Ramah yang Tiada Duanya

Ketika saya baru tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya sempat bingung hendak mencari hotel yang akan ditempati. Hal ini dapat dimaklumi sebab sebelumnya saya belum pernah ke Yogyakarta. Pada kesempatan kali ini pun saya juga hanya datang sendiri ke Yogyakarta. Usai meninggalkan stasiun Tugu, saya langsung berjumpa dengan tukang ojek. Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek tersebut. Saya berkata kepada tukang ojek tersebut bahwa saya ingin mencari hotel.

Akhirnya perjalanan pun dimulai. Tukang ojek tadi membawa saya berkeliling untuk mencari hotel yang cocok dengan selera saya. Sepanjang perjalanan, saya bisa langsung merasakan betapa ramahnya masyarakat Yogyakarta. Obrolan ringan pun terjadi, beliau (tukang ojek tadi) bercerita berbagai hal tentang Yogyakarta. Tak hanya itu, beliau juga menawarkan diri untuk menemani saya berkeliling berbagai tempat wisata di Yogyakarta. Tentu saja, tawaran ini sangat menarik. Apalagi tarif yang beliau tawarkan pun cukup terjangkau.

Sekadar gambaran, waktu itu harga sewa ojek di Yogyakarta adalah 150 ribu Rupiah per hari. Cukup membayar 150 ribu Rupiah, saya bisa berjalan-jalan secara puas mengelilingi berbagai tempat wisata di Yogyakarta. Tak hanya wisata dalam kota Yogya, beliau juga mengantarkan saya ke berbagai tempat wisata lain di luar kota Yogya (misal ke Borobudur di dekat Magelang, Candi Prambanan di Klaten, dsb). Hal ini berbeda sekali dengan Tangerang atau Jakarta, di mana tarif angkutan jelas jauh lebih mahal. Contohnya tarif antar jemput bandara di Tangerang bisa mencapai 150 ribu Rupiah.

Tak hanya sampai di situ, usai mendapatkan hotel, saya sempat memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Jalan Malioboro. Ya, di sepanjang jalan yang sudah sangat terkenal ini, Anda akan menemukan Bapak-Bapak penarik becak yang siap menawarkan jasa untuk mengantarkan Anda berkeliling. Sore itu, saya langsung disambut ramah oleh Bapak-Bapak penarik becak ini. Gaya bicara, pilihan kata yang digunakan benar-benar santun, halus, dan begitu menggembirakan. Suatu hal yang barangkali tidak mudah untuk ditemukan di daerah lain.

Tak cukup sampai di situ, keramahan masyarakat Yogya juga akan Anda jumpai dalam berbagai hal lain. Seperti saat menikmati angkringan, makan di lesehan, berjalan-jalan di tempat wisata, dengan mudah kita akan menjumpai ramahnya masyarakat Yogyakarta.

Dengan sikap ramah tamah ini, saya sangat puas ketika berinteraksi dan bertransaksi dengan masyarakat Yogyakarta. Bahkan, saya tak segan memberikan uang lebih kepada Bapak penarik becak yang waktu itu menemani saya jalan-jalan sore menelusuri indahnya Yogya. Sikap ramah tamah ini menjadi poin plus dalam layanan yang diberikan oleh masyarakat Yogya. Menurut saya, hal ini merupakan nilai tambah yang amat bagus dalam kegiatan bisnis yang dilakukan masyarakat Yogyakarta.

Bagaimana, Anda tertarik dan mau meniru sikap ramah tamah orang Yogya dalam berbisnis? Sikap ramah yang kita tampilkan tentu akan membuat pelanggan lebih nyaman berbisnis dengan kita.

2. Berpegang Teguh pada Budaya nan Bersahaja

Tenang bagai ombak gemuruh laksana merapi,

Tradisi hidup di tengah modernisasi,

Rakyatnya njajah deso milang kori,

Nyebarake seni lan budhi pekerti

Begitulah kutipan lirik lagu Jogja Istimewa yang dipopulerkan oleh Jogja Hip Hop Foundation. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Yogyakarta tradisi hidup di tengah modernisasi. Hal ini jelas sangat menarik. Ketika banyak daerah yang mulai “melupakan” tradisinya, Yogya justru tetap memegang teguh tradisi. Masyarkatnya pun tetap memegang teguh tradisi.

Budaya adalah senjata, yang harus kita jaga.

Budaya adalah senjata, senjata yang harus kita jaga.

Berpegang teguh pada tradisi merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan agar kita tidak kehilangan identitas bangsa sendiri. Saat budaya asing begitu gencar masuk ke Indonesia, tentu kita tidak boleh melupakan budaya bangsa sendiri. Coba bayangkan, berapa banyak anak muda yang lebih menyukai gudeg ketimbang makanan-makanan luar negeri yang “berhamburan” di mal?

Berapa banyak pengusaha yang mau tetap melestarikan budaya? Misalkan dengan menjual makanan tradasional daerah. Yang ada justru makin hari makin banyak orang yang “menjual” budaya asing ketimbang budaya bangsa sendiri. Restoran Korea menjamur di mana-mana, tempat makan ala Amerika (seperti KFC, McDonalds) justru kian menjamur di berbagai kota. Jika bukan kita yang memegang teguh budaya kita sendiri, lantas siapa lagi?

Untuk itu, dalam berbisnis pastikan kita tidak melupakan budaya bangsa sendiri. Akan sangat indah ketika kita mampu mengemas produk yang mengagumkan tanpa perlu melupakan budaya kita. Apalagi jika kita mampu mengemas budaya Indonesia menjadi produk bernilai tinggi di pasaran. Seandainya makin banyak restoran-restoran makanan tradsional yang dikemas dengan menarik dan menggugah. Bayangkan ketika gado-gado tidak lagi sekadar jajanan pasar atau kaki lima. Andaikan gado-gado dapat dikemas secara menarik dan brand-nya tidak kalah dengan KFC, Pizza Hut, atau McDonalds sekalipun. Bayangkan ketika gudeg disukai seluruh masyarkat Indonesia. Bayangkan bila gudeg juga punya brand yang sangat menarik layaknya Starbucks. 🙂

Kembali lagi ke cerita saya di Yogya.

Sewaktu saya duduk bersantai di salah satu cafe di dekat Malioboro, saya menikmati malam dengan begitu indah. Mengapa? Sebab sembari bersantai, membaca novel, dan menikmati minuman dan camilan hangat, terdengar alunan indah musik gamelan. Kebetulan malam itu sedang ada pementasan gamelan di dekat cafe tersebut. Alhasil suasana malam itu terasa kian indah, begitu syahdu, dan saya merasakan “wow”. Ya, ketika budaya mampu dikemas dengan baik, budaya dapat menjadi nilai tambah bagi sebuah bisnis. Dan harus diakui masyarakat Yogya sudah sangat baik dalam menjadikan budaya sebagai nilai jual wisata mereka.

Suasana malam di Yogyakarta membuat saya kangen kota ini.

Suasana malam di Yogyakarta membuat saya kangen kota ini.

3. Kerja Sama yang Kompak

Ketika berjalan-jalan di Yogya, pasti pemandu wisata yang mengantarkan akan mengajak Anda mampir ke berbagai tempat penjualan kerajinan masyarakat. Anda pasti diajak untuk mampir ke tempat penjualan batik Yogya, ke tempat penjualan kaos Dagadu, ke tempat penjualan bakpia, dan lain sebagainya.

Tentu saja ini membuktikan adanya kerja sama yang erat antara produsen dengan sejumlah stakeholder lain (seperti tukang becak, pemandu wisata, dsb). Sudah tentu sinergi yang baik ini akan menimbulkan efek yang sangat bagus. Pemandu wisata sudah tentu akan mendapatkan komisi karena telah mendatangkan pembeli. Sedangkan produsen sudah tentu akan senang karena produknya laku.

Nah, hal yang sama juga dapat diterapkan dalam bisnis kita. Sudah saatnya kita membangun kerja sama yang erat dengan berbagai stakeholder lain. Entah itu dengan media, dengan partner/rekan kerja Anda, dengan konsumen produk Anda, dengan reseller Anda, dan berbagai pendukung lainnya. Buah dari kerja sama yang kompak ini pasti akan manis. Pendukung Anda akan diuntungkan dan Anda sudah pasti untung.

4. Kreativitas yang Layak Diacungi Jempol

Saya akui bahwa masyarakat Yogya sudah cukup berhasil dalam menjual budaya mereka. Menjual di sini tentu dalam arti positif. Hal ini tidak lepas dari kreativitas masyarakat Yogya. Berbagai produk, entah itu kuliner, pakaian, wisata, dan lainnya sudah dikemas secara kreatif. Tak heran, ketika wisatawan pulang dari Yogya, mereka pasti kangen untuk kembali datang ke Yogyakarta.

Dari beberapa daerah yang telah saya kunjungi, saya akui bahwa Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang berhasil menjual pariwisata mereka. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi daerah-daerah lain. Bahkan, dari sejumlah daerah yang telah saya kunjungi, saya justru menjumpai bahwa instansi terkait belum optimal dalam mendukung penjualan budaya/wisata mereka. Tak perlu jauh-jauh, beberapa tempat wisata di Sumatra Selatan pun banyak yang belum terlalu menjual. Padahal dari segi potensi, Sumatera Selatan punya banyak potensi.

Pelajaran bisnis keempat yang dapat dipetik dari masyarkaat Yogya adalah kreativitas. Sudah saatnya kita mampu mengemas produk dengan kreatif, menambahkan nilai tambah, dan menciptakan experience yang luar biasa bagi pengguna produk kita. Buatlah produk kita menjadi ngangenin seperti layaknya Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut salah satu produk kreatif buah karya anak-anak Yogya.

Rekan pembaca sekalian, itulah sejumlah pembelajaran yang saya dapatkan usai menjelajah sebagian wilayah Yogyakarta. Saya berjanji bahwa suatu saat saya pasti akan kembali menjelajah Yogyakarta. Yang pasti saya sudah jatuh cinta dengan Yogya.

Jogja…Jogja tetap istimewa…

istimewa negerinya istimewa orangnya…

Jogja…Jogja tetap istimewa…

Jogja istimewa untuk Indonesia.

(Kutipan lirik lagu Jogja Istimewa dari Jogja Hip Hop Foundation.)

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

 

panduan lengkap meraih kebebasan finansial

2 Comments

  1. ariesusduabelas

    iya. jarang ada pengusaha lokal yg ikut andil dalam usaha berbasis budaya. padahal, itu adalah ciri dari kita. pengusaha lokal lebih menyukai bisnis yg dibawa asing. mungkin, karena mereka ingin untung lebih cepat.

  2. Passive07 (Post author)

    @Aries Sebenarnya bisnis dan produk lokal pun bisa memberi untung yang menjanjikan juga. Hanya saja, perlu nilai tambah untuk produk lokal tersebut. Ketika produk lokal dikemas dengan brand dan citra yang bagus, maka pasti orang-orang tetap mau menggunakan produk tersebut.

    Selanjutnya, menjadi PR bagi para pengusaha lokal ataupun kita untuk turut mengembangkan produk lokal agar makin berjaya di negeri sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *