Kiat Menjadi Pebisnis Sukses : Jago Berpikir Kreatif dan Kritis

Beberapa tahun belakangan, entrepreneurship menjadi topik yang banyak dibahas di mana-mana. Bahkan, sejumlah universitas pun bermunculan dengan mengusung entrepreneurship sebagai basis pendidikan mereka. Salah satunya di universitas tempat saya kuliah, Universitas Multimedia Nusantara. Universitas milik Kelompok Kompas Gramedia ini juga memiliki tujuan mencetak lulusan-lulusan yang andal dan berkarakter entreprenurship.

Ketika kita membahas tentang entrepreneurship, sudah tentu tidak akan lepas dari karakter kewirausahaan. Ada banyak karakter yang diperlukan untuk menjadi seorang pebisnis sukses. Kendati demikian, ada dua karakter yang wajib dimiliki oleh mereka yang ingin menjadi pebisnis sukses. Dua karakter tersebut adalah :

  • berpikir kreatif, dan
  • berpikir kritis.

Secara sekilas, dua hal ini tampak saling bertentangan. Berpikir kreatif identik dengan pola pikir otak kanan. Sedangkan berpikir kritis sudah pasti masuk dalam ranah otak kiri. Apakah benar kedua hal ini bertentangan? Bagaimana cara supaya kita bisa berpikir kreatif tetapi sekaligus kritis? Temukan jawabannya dalam pembahasan menarik berikut ini.

Kiat Menjadi Pebisnis Sukses : Pentingnya Berpikir Kreatif dan Sekaligus Berpikir Kritis

Ketika kita bicara soal membangun sebuah bisnis, maka sudah pasti tidak akan lepas dari tantangan-tantangan. Tantangan ini ada banyak, bisa berasal dari dalam diri ataupun dari luar diri kita. Nah, untuk menjadi seorang pebisnis sukses, sudah tentu kita harus mampu mengatasi tantangan-tantangan yang muncul. Di sinilah perlunya kemampuan untuk berpikir kreatif. Dengan kemampuan berpikir kreatif, seseorang akan mampu melahirkan ide-ide kreatif yang nantinya dapat diterapkan guna menciptakan solusi atas tantangan yang dihadapi.

ide kreatif

Contoh, seorang pebisnis muda mengalami tantangan berupa penurunan penjualan. Nah, dengan kemampuan berpikir kreatif, ia akan mampu melahirkan solusi agar bisa meningkatkan penjualan. Kemampuan berpikir kreatif diperlukan untuk mendorong supaya seseorang mampu melahirkan solusi yang dapat mendukung bisnisnya.

Tak hanya dituntut mampu berpikir kreatif, seseorang juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Dengan kemampuan berpikir kritis, seseorang tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Tak hanya itu, mereka yang mampu berpikir kritis juga akan lebih selektif terhadap informasi apa yang mereka dapatkan.

Tak bisa dipungkiri, ada banyak hal keliru di sekitar kita. Ada banyak paradigma yang kurang tepat yang mengeliling keseharian kita. Contohnya, dulu banyak kalangan yang menanggap bahwa menjadi karyawan itu lebih baik dibanding menjadi pebisnis. Mereka berpandangan bahwa menjadi karyawan relatif lebih tenang, tidak perlu memusingkan banyak hal, dan hidupnya adem ayem. Apakah pandangan tersebut 100 % tepat?

Jelas tidak. Tidak selalu menjadi pebisnis itu tidak lebih baik dari menjadi karyawan.

Contoh hal mitos lainnya : untuk sukses memulai bisnis, kita harus punya banyak modal. Jika tak punya modal mana mungkin bisa berbisnis.

Padahal, ada banyak sekali peluang bisnis yang dapat dimulai tanpa modal uang.

Nah, kemampuan berpikir kritis diperlukan sebagai filter agar kita tidak mudah terpengaruh terhadap informasi-informasi yang belum tentu benar. Selain itu, dengan kemampuan berpikir kritis seseorang akan memiliki kualitas pilihan yang lebih baik. Ia tidak akan gegabah dalam mengambil tindakan sebab ia sudah mepertimbangkan risiko dan akibat dari tindakan yang ia ambil.

Bayangkan kalau seorang pebisnis tidak berpikir kritis. Bisa saja ada banyak tindakannya yang salah dan justru merugikan orang lain.

Apakah Kedua Hal Ini Bertentangan?

Sewaktu semester 1, saya mendapatkan mata kuliah Creative and Critical Thinking. Melalui mata kuliah ini, diharapkan kami para mahasiswa mampu menjadi insan yang kreatif dan kritis. Jadi, dalam mata kuliah ini, dosen benar-benar menuntun kami untuk jadi kreatif tetapi sekaligus kritis.

Sewaktu pertama kali belajar mata kuliah ini, saya sempat bingung. Saya sempat berpikir bahwa kreativitas identik dengan otak kanan. Sedangkan sikap kritis identik dengan otak kiri. Semula saya sempat menganggap bahwa kreatif dan kritis itu bertentangan. Saya mengira bahwa dengan menjadi kritis artinya kita akan membatasi kreativitas.

Ternyata, setelah bergulirnya waktu, saya tidak lagi menganggap kedua hal ini bertentangan. Mereka justru saling melengkapi. Persis seperti otak kanan dan otak kiri. Ada yang menganggap bahwa otak kanan lebih unggul dibanding otak kiri. Bahkan parahnya ada yang menganggap bahwa otak kanan lebih mulia, lebih hebat, lebih jago dari otak kiri.

Padahal otak kanan tanpa otak kiri jelas tidaklah lengkap. Keduanya tercipta untuk saling melengkapi.

Demikian pula kreativitas dan sikap kritis. Keduanya saling melengkapi. Ketika seorang pebisnis punya dua karakter ini, ia akan menjadi  seorang pebisnis yang amat tangguh. Di satu sisi ia sangat bebas dan kreatif, tetapi di sisi lain ia juga penuh pertimbangan dan teliti. Alhasil, kebijakan-kebijakan yang ia ambil juga akan inovatif, tepat dan tidak merugikan.

Cara Melatih Berpikir Kreatif dan Berpikir Kritis

Untuk melatih kreativitas, setidaknya ada 40 cara yang dapat kita gunakan. 40 cara melatih kreativitas itu dapat Anda lihat di infografis berikut ini. (Infografis berikut saya dapatkan setelah membaca blog StrategiManajemen.net).

cara supaya kreatif

40 cara untuk kreatif.

Lantas, bagaimana cara melatih sikap kritis? Ada beberapa kiat yang dapat kita gunakan. Berikut kiat-kiat agar bisa berpikir kritis.

  • Jangan langsung ambil kesimpulan, pahami terlebih dahulu. Biasakan diri untuk tidak langsung mengambil kesimpulan, tetapi pahami dulu secara keseluruhan. Ketika kita menerima sebuah informasi, jangan langsung buru-buru ambil kesimpulan. Melainkan, bersikaplah lebih tenang, pelajari dulu informasi tersebut, pertimbangkan, baru kemudian mengambil kesimpulan. Tidak terburu-buru dan belajar memahami merupakan dasar dari pemikiran kritis.
  • Perluas sudut pandang Anda. Untuk bisa kritis, maka kita perlu memperluas sudut pandang. Bagaimana cara memperluas sudut pandang? Belajarlah memahami orang lain. Selain itu, kegiatan membaca juga dapat memperluas sudut pandang Anda.
  • Jangan stereotip dan menghakimi secara sembarangan. Stereotip adalah tindakan menghakimi sifat suatu golongan hanya berdasarkan persepsi dan prasangka subjektif. Contoh stereotip misalnya : memandang suku/kelompok tertentu dengan sifat tertentu, sehingga ketika kita bertemu seseorang dari suku/kelompok itu, kita langsung menghakimi bahwa sifat orang tadi pasti sama dengan sifat suku/kelompoknya. Jika ingin berpikir kritis, maka kita harus menghindari streotip.
  • Biasakan untuk memahami mana yang salah dan mana yang kurang tepat. Tidak semua informasi di sekitar kita adalah informasi yang tepat. Ada banyak informasi yang menyimpang di sekitar kita. Untuk itu, biasakan diri untuk mengetahui mana yang salah dan mana yang kurang tepat.

Pembahasan lebih mendalam tentang cara melatih sikap kreatif dan sikap kritis akan kita bahas pada tulisan-tulisan berikutnya. Jadi, pastikan Anda senantiasa membaca blog JagoanPassiveIncome.com. 🙂

Intinya, berpikir kritis dan berpikir kreatif itu adalah dua hal yang saling melengkapi. Ketika kita mampu untuk kreatif sekaligus kritis, kita akan punya modal karakter untuk bisa menjadi pebisnis sukses. Marilah kita nikmati hidup sebagai sebuah proses, lalu di dalamnya kita terus berupaya kreatif dan kritis agar bisa hidup dengan sebaik-baiknya.

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

kursus pengembangan diri terlengkap

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *