Pentingnya Pendidikan Finansial Bagi Anak Muda

Beberapa waktu yang lalu saya sudah membahas tentang tiga kemampuan yang perlu dimiliki apabila seseorang ingin memiliki passive income. Pembahasan tentang tiga kemampuan tadi dapat Anda baca di tulisan : Inilah 3 Kemampuan yang Membuat Anda Bisa Punya Passive Income.

Selain 3 kemampuan tadi, ada satu lagi kemampuan yang wajib dimiliki apabila seseorang ingin menjadi kaya. Ya kalau ndak kaya-kaya amat minimal hidup sejahtera.

Kemampuan apakah itu?

Tidak lain tidak bukan kemampuan tersebut adalah kemampuan yang baik dalam bidang pendidikan finansial.

Pada tulisan ini saya akan membahas betapa pentingnya pendidikan finansial. Tak hanya itu, Anda juga bisa mengulik berbagai kiat dan tips membiasakan pendidikan finansial pada anak-anak ataupun pada diri sendiri. Selamat menikmati.

Fenomena Kelam yang Berawal dari Kebutaan Finansial

Tidak sedikit orang yang terperosok dalam fenomena kelam finansial. Mereka terjerat utang, mengalami kerugian dalam bisnis, dan berbagai fenomena kelam lainnya. Parahnya banyak orang yang terjerat utang dalam bentuk utang konsumtif. Utang konsumtif adalah utang yang diambil dengan tujuan membiayai gaya hidup konsumtif, seperti belanja barang mewah yang nilainya terus turun.

Misalkan si A mengambil utang untuk membiayai mobil baru.

Nah kalau mobil baru tadi hanya dipakai untuk sekadar gaya-gayaan dan tidak dipakai untuk kepentingan bisnis, maka mobil tadi bisa disebut sebagai liabilitas. Dalam arti mobil tersebut hanya mengeluarkan uang dari kantong si A. Mobil tersebut butuh biaya bensin, mobil tersebut butuh biaya perawatan, harus bayar pajak mobil, dsb.

(Baca konsep lengkap tentang aset dan liabilitas di tulisan ini : Cara Menjadi Orang Kaya : Panduan Lengkap Jadi Orang Kaya ).

kegagalanKetika mengabil utang untuk kegiatan konsumtif, saya menyebut hal tersebut dengan fenomena kebutaan finansial.

Lazim dijumpai banyak orang terjerat utang dan masuk dalam kekelaman finansial karena mereka salah menggunakan utang. Harusnya utang digunakan untuk sesuatu yang positif dan menambah aset, bukannya malah untuk konsumtif.

Salah satu kebutaan yang paling sering dijumpai adalah banyak orang yang masih belum bisa membedakan (bahkan tidak tahu) apa itu aset dan liabilitas. Padahal, pemahaman tentang aset dan liabilitas ini adalah konsep dasar untuk menjadi kaya.

Sayangnya, Sistem Pendidikan Kita Belum Menyediakan Pendidikan Finansial yang Mencukupi

Fenomena kebutaan finansial bukanlah hal yang mengherankan. Bisa jadi hal ini disebabkan karena minimnya pendidikan finansial.

Seberapa sering guru atau dosen kita mengajarkan tentang uang dan finansial?

Seberapa sering orang tua membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan finansial pada anaknya?

Jarang sekali.

Bahkan, dalam budaya keluarga terentu, adalah tabu membahas isu-isu yang berkaitan dengan dunia finansial. Tak heran karena jarangnya anak-anak diberi pendidikan finansial, mereka rentan terkena kebutaan finansial. Kebutaan finansial yang terbawa sampai masa dewasa akan menjadikan mereka sebagai insan ekonomi yang sulit berpikir kritis dan mengambil tindakan yang tepat. Mereka akan mudah tergoda pada budaya konsumtif, mereka cenderung mementingkan gengsi daripada esensi.

Saya jadi teringat pelajaran ekonomi yang saya dapatkan sewaktu SMA. Sewaktu kelas X, saya ingat beberapa pembelajaran yang saya dapat dalam mata pelajaran ekonomi. Ada berbagai pembelajaran ekonomi yang saya ingat. Hanya saja, saya sedikit “menertawakan” pelajaran ekonomi di SMA. Mengapa?

Karena pembelajaran ekonomi di SMA banyak membahas hal-hal yang terlalu abstrak dan tidak konkret bagi anak SMA. Saya masih belum mengerti apa manfaatnya anak SMA jago menghitung dan memahami PDB (produk domestik bruto) suatu negara. Kalau mereka nantinya akan kuliah ekonomi maka barulah hal tersebut penting. Kalau mereka sudah jadi menteri ekonomi maka barulah hal itu akan penting dan terpakai.

Jangan-jangan menghitung PDB diajarkan hanya demi mampu menjawab soal saat ujian nasional? πŸ™‚

Bah.. betapa dangkalnya pendidikan macam itu. Harusnya pendidikan fokus pada esensi, fokus pada pola pikir dan keterampilan, bukan hanya pada keberasilan menjawab soal ujian yang (menurut saya) ndak terlalu penting-penting amat.

Apakah tahu dan hafal PDB Indonesia akan menjamin kesuksesan anak SMA tadi dalam membuka bisnis?

Belum tentu.

Tahu PDB belum tentu menjadikan kita makin ahli memuaskan konsumen. Tahu PDB belum tentu menjadikan kita tahu bagaimana melakukan efisiensi dalam bisnis.

Salah satu hal yang kadang saya heran dari pendidikan di sekolah adalah guru-guru sangat sering membahas konsep yang abstrak. Alih-alih membahas tindakan konkret untuk peserta didik, mereka masih suka menjejali segudang konsep yang kadang membuat bingung. Andaikan guru-guru tadi mau lebih banyak membahas aspek konkret dan tindakan nyata, saya yakin akan makin banyak siswa yang termotivasi untuk belajar.

Mereka (siswa) akan semangat belajar karena mereka tahu pentingnya belajar bagi diri mereka.

Beritahu para siswa, “Hei.. ilmu ini penting buat hidup lu. Begini nih penerapan ilmunya. Kalau lu mau hidup lu bener, pelajari ilmu ini dengan baik. Lu pegang tanggung jawab sendiri terhadap hidup lu.

Ketika manusia tahu “apa pentingnya buat saya” maka mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu.

Contoh, mengapa kita patuh pada atasan dan taat pada SOP (standard operational procedure) di perusahaan? Karena SOP itu penting. Ketika kita merasa SOP itu penting maka kita akan lebih taat mengikuti prosedur tersebut.

Mengapa kita makan? Karena kita tahu dan pikiran kita sadar bahwa makan itu penting.

Mengapa kita ibadah? Karena kita tahu ibadah itu penting dan berguna untuk kehidupan kita.

Oleh sebab itu, tugas penting dari seorang pendidik adalah membangun kesadaran dalam diri peserta didik. Ketika siswa sadar bahwa suatu hal itu penting, ia akan lebih termotivasi mengerjakan/mempelajari hal tersebut.

Bagaimana Cara Membiasakan Pendidikan Finansial bagi Anak-Anak/Generasi Muda?

finansialSemakin dini anak-anak dikenalkan pada pendidikan finansial maka semakin baik. Semakin dini seseorang memulai sebuah bisnis maka semakin baik. Menjadikan anak-anak berbisnis sedini mungkin adalah paket pembelajaran komplit tentang pendidikan finansial. Ketika anak Anda sudah cukup umur (sudah mulai menginjak masa SD akhir atau mulai masuk SMP) maka kenalkanlah mereka pada dunia bisnis.

Kalau bisa, bimbinglah mereka menjadi pebisnis semuda mungkin. Ketika kita membangun sebuah bisnis maka kita akan belajar langsung tentang pendidikan finansial. Semua tindakan dalam bisnis pasti berdampak pada finansial.

Ketika kita mengeluarkan biaya promosi, maka itu akan mengurangi kas. Itu berdampak pada finansial.

Ketika kita menambah stok barang, kita akan mengeluarkan modal. Hal Itu berdampak pada kas dan finansial.

Ketika kita mendapatkan uang dari penjualan, itu berdampak pada penambahan kas. Itu juga pendidikan finansial.

Ketika kita salah mengambil keputusan finansial maka pasti akan langsung berdampak pada bisnis kita. Sakitnya rasa gagal atau sakitnya melakukan keselahan itu bisa menjadi pembelajaran yang ampuh dalam bidang finansial.

Intinya, jika ingin anak-anak/generasi muda menjadi melek finansial maka paket pembelajaran paling komplit adalah bimbing dan bantu mereka membangun sebuah bisnis. Tidak harus bisnis yang langsung besar, tetapi mulailah dari bisnis yang kecil (dengan modal kecil).

Apakah harus melalui sebuah bisnis?

Tidak harus. Berikut ini beberapa kiat mengenalkan anak-anak pada pendidikan finansial.

  1. Libatkan mereka dalam kegiatan ekonomi seperti jual dan beli. Ketika mereka ingin membeli suatu barang ajari mereka untuk belajar mengumpulkan uang. Hal ini dilakukan oleh ibu saya. Ketika saya ingin membeli sepeda baru, ibu saya akan membelikan sepeda tersebut. Hanya saja, saya harus mencicil sepeda itu. Jadi, setiap hari uang jajan saya akan dipotong untuk menyicil sepeda itu. Saya terpaksa berhemat saat jajan sampai cicilan sepeda saya lunas. πŸ™‚ Dalam hal ini, ibu saya berperan sebagai “bank”. Ketika hal tersebut dibiasakan maka saya makin paham tentang utang dan pinjaman. Hal yang sama juga bisa diterapkan pada kegiatan mendidik anak yang Anda lakukan. Kenalkan dan libatkan anak Anda dalam dunia jual beli.
  2. Berikan mereka tanggung jawab keuangan. Misalnya dengan cara memberi mereka uang jajan mingguan. Bimbing mereka agar bisa menggunakan uang jajan mingguan dengan bijak. Ketika mereka diberi tanggung jawab terhadap uang mereka sendiri, mereka akan belajar banyak tentang finansial.
  3. Jika umur mereka sudah mencukupi, ajari mereka tentang investasi. Setiap kali saya pulang kampung, saya berusaha untuk memberikan pendidikan finansial pada adik-adik saya. Untuk adik saya yang sudah berumur 10 tahun saya mulai mengenalkan tentang investasi padanya. Cara apa yang saya lakukan? Saya melakukannya melalui permainan monopoli. Tak hanya itu, biasanya saya juga mengajak ia makan di berbagai tempat, mulai dari warung, restoran cepat saji, sampai rumah makan. Saat makan atau sedang jalan-jalan saya akan mengenalkan dunia bisnis, uang, dan dunia investasi pada adik saya tadi. Eduaksi tersebut saya sampaikan melalui obrolan ringan. Saya tidak mengharuskan ia paham semuanya, saya hanya mengenalkan dan memberinya sedikit pengetahuan. Seiring berjalannya waktu ia akan paham sendiri kalau ia sudah mempraktikkan pembelajaran tadi.

Rekan pembaca sekalian, itulah beberapa kiat dan tips praktis untuk mengenalkan pendidikan finansial pada anak-anak dan generasi muda. Semakin dini kita kenal pendidikan finansial maka semakin kita paham bagaimana ekonomi bekerja. Pemahaman tentang ekonomi ini akan menjadikan kita sebagai insan yang terdidik dan melek finansial. Insan yang melek finansial akan punya modal lebih dalam membangun kekayaan dan kesejahteraan.

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

Sumber gambar :

panduan lengkap meraih kebebasan finansial

1 Comment

  1. dwi samodra

    β˜ΊπŸ˜€

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *