Prinsip Investasi yang Wajib Anda Ketahui

Untuk meraih keberhasilan finansial, sudah tentu tidak bisa lepas dari yang namanya investasi.

Bahkan jika kita melakukan investasi dengan tepat, kita pun bisa meraih passive income.

Lantas, seperti apa investasi yang tepat? Bagaimana cara melakukan investasi agar berhasil? Mari kita ulas jawabannya dalam posting berikut.

Banyaknya Jenis Investasi

Ada banyak investasi yang dapat dipilih. Misalnya :

  • investasi emas,
  • investasi properti,
  • investasi pada aset kertas (seperti deposito, saham, dsb).

Tak hanya itu, kita pun juga bisa berinvestasi pada bisnis yang kita kelola sendiri ataupun dikelola orang lain.

Sebagian orang juga ada yang berinvestasi pada hobi tertentu, misalkan berinvestasi pada barang antik, karya seni, ternak, dan jenis-jenis lainnya. Banyaknya pilihan investasi ini kadang bisa membingungkan orang. Lantas, bagaimana cara memilih investasi yang tepat?

Pilih Bidang Investasi yang Anda Minati

Tips pertama dalam berinvestasi adalah pilih investasi yang Anda minati. Kenapa? Sebab ketika Anda meminati suatu bidang, Anda akan lebih antusias untuk mempelajari bidang tersebut. Ketika Anda mampu mempelajari suatu bidang secara mendalam, Anda akan punya pengetahuan yang utuh dalam bidang tersebut. Pengetahuan yang utuh ini akan sangat membantu ketika Anda harus mengambil keputusan dalam investasi.

Misalkan jika Anda suka dengan pengelolaan rumah kos, suka menyediakan layanan bagi orang lain, maka berinvestasi pada bidang properti (khususnya rumah kos) akan cocok bagi Anda. Jika Anda orangnya suka memelihara hewan, maka Anda bisa berinvestasi pada bidang peternakan. Kalau Anda suka berkebun, maka Anda bisa mencoba investasi pada perkebunan.

Agar berhasil dalam investasi, Anda perlu punya pengetahuan. Pengatahuan ini didapat dari belajar dan pengalaman.

Ketahui Profil Risiko

investasi

Tips kedua adalah ketahui profil risiko Anda. Setiap bidang investasi, memiliki profil risiko yang berbeda. Contoh, investasi saham memiliki risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan deposito. Kendati demikian, persentase return dari investasi saham jauh lebih besar dibandingkan di deposito.

Hal yang perlu Anda ingat  adalah prinsip high risk, high return. Semakin tinggi risiko suatu investasi, maka biasanya pengembalian (return)-nya juga akan tinggi. Contoh, investasi properti mengandung profil risiko yang cukup tinggi, tetapi hasilnya juga besar. Untuk berinvestasi pada properti memang butuh modal yang tidak sedikit, tetapi hasilnya juga banyak.

Sangat jarang sekali ada investasi yang risikonya rendah tetapi menjanjikan keuntungan yang sangat fantastis. Dengan mengingat prinsip ini, kita akan terhindar dari investasi bodong yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi dengan riskio yang amat kecil.

Nah setelah Anda tahu apa profil risiko Anda, maka Anda bisa memilih jenis investasi yang sesuai dengan profil Anda. Jika Anda sangat menyukai risiko, siap dan tidak takut rugi, maka Anda bisa mengambil investasi seperti saham dan properti.

Jika Anda lebih suka investasi dengan risiko yang rendah, Anda bisa mencoba deposito, emas, ataupun reksadana.

Kendati demikian, tidak ada satu pun investasi yang bebas kerugian. Contohnya : sekalipun investasi emas tampak seperti “tidak akan rugi”, di waktu tertentu harga emas juga bisa turun. Tentu turunnya harga emas bisa berdampak pada kerugian investasi Anda.

Tujuan dan Jangka Waktu Investasi

Jangka waktu investasi juga perlu diperhatikan.

Apakah tujuan investasi Anda?

Apakah menjadikan investasi sebagai tambahan income?

Apakah pelindung kekayaan?

Apakah sekadar menabung dalam wujud yang lain?

Setiap orang punya tujuan investasi yang berbeda. Ada yang hanya ingin sekadar menabung, tapi ada pula yang ingin mendapatkan passive income. Nah, pilihlah investasi yang sesuai dengan tujuan Anda.

Contoh, jika Anda ingin mendapatkan passive income dari investasi yang Anda lakukan, pilihlah investasi yang menghasilkan passive income. Contohnya : investasi pada rumah kos, rumah yang disewakan, apartemen yang disewakan, ruko yang disewakan, investasi pada hewan ternak (seperti sapi dan kambing), ataupun investasi pada perkebunan (misal : kebun kopi, kebun kelapa sawit).

Jangka waktu investasi juga perlu Anda perhatikan. Jika Anda ingin berinvestasi jangka panjang, maka aset seperti properti, emas, saham (asalkan saham yang tepat), cocok untuk Anda.

Likuiditas aset juga perlu Anda perhatikan. Aset seperti emas cenderung mudah untuk dijual, alhasil ketika Anda butuh uang, Anda bisa langsung mendapatkannya dengan mudah. Aset seperti properti kadang butuh waktu untuk bisa diuangkan (dijual). Solusi terbaik adalah dengan menaruh investasi pada beberapa bidang. Dengan demikian, kita bisa lebih fleksibel dalam berinvestasi.

Sumber Dana Investasi

dana investasi

Apakah bisa membiayai investasi dengan utang?

Bisa. Asalkan investasi Anda pada aset.

Apa itu aset? Ada pengertian yang berbeda tentang aset. Orang-orang akuntansi kerap menyebut aset sebagai segala kekayaan yang kita miliki. Mobil, rumah, semua dianggap aset. Padahal tidak selalu demikian.

Saya lebih suka istilah aset yang dipakai oleh Robert Kiyosaki. Menurut Robert, aset adalah segala sesuatu yang mengalirkan uang ke kantong kita.

Mobil belum tentu aset. Kenapa?

Sebab jika mobil tersebut hanya dipakai untuk kepentingan pribadi (misal untuk jalan-jalan, liburan, antar jemput keluarga) maka mobil itu tidak mengalirkan uang ke kantong kita. Sebaliknya si mobil justru mengalirkan uang keluar dari kantong kita (misal : untuk biaya bahan pakar, biaya perawatan, dan pajak).

Lain halnya kalau mobil tersebut dipakai untuk kegiatan bisnis (misal : disewakan, dipakai untuk bisnis jasa travel). Jika itu terjadi, maka barulah mobil bisa disebut aset.

Mobil dan rumah baru disebut aset ketika keduanya mengalirkan uang ke kantong Anda.

Mobil dan rumah baru disebut aset ketika keduanya mengalirkan uang ke kantong Anda.

Nah, apakah bisa membiayai investasi dengan utang? Bisa. Hanya saja, akan lebih baik jika utang tadi dipakai untuk mengembangkan aset Anda.

Seperti apa contohnya?

Misalkan Anda ingin berinvestasi pada properti (katakanlah apartemen). Anda bisa membiayai pembelian apartemen tadi dengan memakai utang (misal dari bank). Nah, untuk membayar bunga dan utang tadi, gunakanlah hasil yang Anda dapatkan dari investasi apartemen tadi. Misalkan, Anda menyewakan apartemen. Selanjutnya uang sewa itulah yang Anda gunakan untuk membayar pinjaman dari bank.

Asalkan aset Anda menghasilkan uang yang cukup untuk membayar utang, maka tak ada salahnya Anda berutang untuk investasi.

Hanya saja, yang perlu Anda perhatikan adalah pastikan Anda sudah punya rencana yang jelas tentang aset Anda. Anda harus tahu aset tersebut akan Anda apakan. Anda harus tahu darimana arus kas (cashflow) akan datang. Anda harus punya rencana bagaimana pengembangan aset tersebut.

Misalkan Anda membeli apartemen seharga 400 juta. Utang Anda ke bank sebesar 300 juta Rupiah. Katakanlah setiap tahunnya Anda harus mencicil sebanyak 72 juta Rupiah (12 bulan x 6 juta/bulan). Pastikan uang sewa apartemen Anda mampu menutupi cicilan kredit tersebut. Misalkan pendapatan sewa apartemen Anda adalah 80 juta per tahun. Jika ini terjadi, maka dengan sendiriya aset akan membayari utang Anda.

Prinsip aset membayar utang tadi dapat Anda terapkan pada kondisi lain. Misalkan pada bisnis Anda, pada usaha peternakan yang Anda bangun, pada perkebunan yang Anda jalankan, dan lain sebagainya. Selagi pendapatan dari aset mampu membiayai utang, maka tak jadi soal jika Anda membiayai investasi dengan utang.

Kendati demikian, kembali lagi ke karakteristik Anda, profil risiko, dan perencanaan Anda. Jika Anda punya rencana yang matang, action plan yang jelas,  dan pengetahuan yang tepat, maka mari ambil risiko.

Nah teman-teman, itulah beberapa prinsip investasi yang perlu kita pahami. Pada intinya, berinvestasi sama seperti keterampilan lain. Perlu dilatih, terus diasah, dan terus ditingkatkan. Jangan ragu untuk belajar dari sumber yang tepat.

Jefferly Helianthusonfri.

2 Comments

  1. Riant Raafi - Plaza Bisnis

    Meski hutang bagi sebagian orang bisa dipergunakan sebagai ‘aset’ bisnis asalkan bisa me-manage, saya cenderung menghindari hutang. Walaupun menjanjikan percepatan, kadang mental kita untuk menghadapi hutang belum cukup saat awal mula merintis bisnis.

    Oya, saya juga tulis artikel tentang properti di web saya, mungkin bisa jadi referensi tulisan mas kedepan tentang ide-ide bisnis dari blog saya. 🙂

    Salam, Riant

  2. Afrid Fransisco

    iya saya setuju dengan riant. artikel ini kalau ngga salah tips triknya kebanyakan berasal dari buku-buku asal Amerika Serikat. Negara AS dan Indonesia berbeda. mental indonesia dengan warga amerika serikat juga beda. agak sulit menerapkan sistem tips investasi ini di indonesia dengan utang dibandingkan dengan warga AS.

    beda dengan warga AS kalau utang mereka menumpuk dan jatuh bangkrut. mereka masih bisa di topang dan di bantu oleh Pemerintah AS, mereka diberi makan gratis dan rumah gratis.

    nah, kalau di indonesia gimana. kalau dia jatuh bangkrut dan utang menumpuk. siapa yang mau membantu…,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *