Tantangan Berbisnis di Usia Muda dan Cara Mengatasinya

Memulai bisnis sejak usia muda, bahkan saat masih sekolah atau kuliah bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus kita hadapi apabila kita memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur. Apa saja tantangan yang kerap dijumpai oleh mereka yang berbisnis di usia yang amat muda? Bagaimana cara mengatasi tantangan-tantangan tersebut?

Pada tulisan kali ini saya akan sharing pengalaman mengenai memulai bisnis di usia muda. Mudah-mudahan dengan sharing ini, teman-teman yang ingin memulai bisnis di usia muda bisa mendapatkan inspirasi dan pembelajaran yang bermanfaat.

Tantangan 1 : Ketiadaan Modal

Ketika ditanya, mengapa kamu tidak memulai bisnis?

Rata-rata orang yang saya temui akan mengatakan “tidak punya modal, Jeff”. Kerap kali hambatan terbesar yang dijumpai oleh anak muda saat hendak memulai bisnis adalah modal. Banyak orang (tidak hanya anak muda) yang mengkambinghitamkan modal. Modal dijadikan sebagai hambatan utama dalam memulai bisnis.

Apakah bisnis perlu modal?

Sudah jelas, bisnis perlu modal.

finansial

Hanya saja, memandang modal uang sebagai syarat pertama memulai bisnis kerap kali bukan pilihan yang bijak. Mengapa? Karena modal tidak hanya uang. Ada berbagai bentuk modal lain. Bentuk modal lain misalnya : pengetahuan (knowledge), relasi dengan supplier, reputasi (track record), dan masih banyak lagi.

Punya uang tapi kalau tidak punya pengetahuan, juga pasti akan sulit untuk berkembang.

Selain itu, tidak semua bisnis harus dimulai dengan modal uang yang besar. Bahkan untuk membangun perumahan sekalipun bisa dimulai tanpa modal uang pribadi. Banyak yang berpikir bahwa saat memulai sebuah bisnis harus langsung besar. Misalkan seseorang ingin membuka bisnis kuliner (restoran). Ia akan berpikir tentang modal untuk menyewa ruko, modal untuk membayar pegawai, dan sebagainya. Mindset seperti ini tidak selalu tepat. Mengapa? Karena jika kita baru pertama kali berbisnis dan langsung membuka bisnis yang besar, maka potensi kegagalannya cukup tinggi.

Jika bisnis besar tadi gagal, maka sudah pasti kita akan kehilangan modal. Tak jarang, orang-orang bisa terlilit hutang gara-gara kejatuhan bisnis pertama mereka.

Lantas, bagaimana solusi mengatasi ketiadaan modal? Berikut solusinya.

  • Gunakan modal orang lain. Modal orang lain artinya modal yang bukan berasal dari kantong pribadi kita. Contoh sumber modal di luar diri kita misalnya : orang tua. Kalau Anda tidak punya modal, maka Anda bisa pinjam modal dari orang tua.
  • Upayakan memulai dengan modal sekecil mungkin (kalau bisa tanpa modal uang). Prinsip yang saya gunakan saat memulai bisnis adalah memulai dengan modal sekecil mungkin (kalau bisa tanpa uang). Apalagi saat ini sudah ada internet. Dengan adanya internet, otomatis biaya pemasaran bisnis kita bisa sangat minim (bahkan gratis). Untuk meramaikan bisnis, kita bisa pakai blog, bisa pakai Facebook atau media sosial lain. Apalagi jika Anda memulai bisnis yang berbasis di internet, maka sangat mungkin untuk memulai dengan modal yang sangat minim.

Tantangan 2 : Minimnya Pengetahuan

Ada kalanya pengetahuan bisa lebih penting daripada uang. Orang yang punya uang tapi tidak punya pengetahuan akan sulit berkembang. Orang yang tidak punya uang tetapi punya pengetahuan masih bisa berkembang. Ia bisa memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk memperoleh uang. Orang yang punya pengetahuan adalah orang yang tahu caranya. Tahu caranya artinya ia tahu apa yang harus dilakukan guna memulai dan mengembangkan sebuah bisnis.

Dari beberapa curhatan teman yang saya dapatkan, saat mereka mau memulai bisnis, mereka bingung harus mulai dari mana dan langkah seperti apa yang harus dilakukan.

Nah hal semacam ini terjadi karena pengetahuan tadi belum dimiliki.

Contoh, Anda ingin memulai sebuah bisnis internet. Hanya saja, Anda tidak tahu langkah seperti apa yang harus diambil, bisnis seperti apa yang harus dibangun. Tanpa pengetahuan tentang bisnis internet, jelas akan sulit untuk memulai bisnis internet.

Demikian halnya dengan bisnis-bisnis lain. Anda mau terjun ke bisnis properti. Tanpa pengetahuan, jelas Anda akan bingung dan bisa-bisa mengalami kegagalan.

pengetahuan.

Lantas, bagaimana mengatasi tantangan minimnya pengetahuan? Berikut solusinya.

  • Bacalah banyak buku. Mengapa saya menyarankan membaca banyak buku? Karena membaca adalah salah satu cara paling ampuh untuk mendapatkan pengetahuan. Semakin banyak buku yang Anda baca maka semakin banyak pula pengetahuan yang bisa Anda dapatkan. Dengan pengetahuan yang tadi Anda dapatkan, Anda bisa memulai dan mengembangkan bisnis. Kebiasaan membaca buku ini harus ditanamkan sejak seseorang mengalami masa kecil. Jika Anda butuh rekomendasi buku-buku bacaan yang bagus dan sesuai minat Anda, silakan buka Enreads.com.
  • Lakukan sesuatu, buatlah sesuatu, dan dapatkan pengalaman. Pengetahuan yang Anda dapatkan akan semakin utuh ketika Anda memiliki pengalaman yang berkaitan dengan pengetahuan yang Anda pelajari. Contoh, kalau Anda mempelajari tentang marketing, maka pengetahuan Anda tentang marketing baru akan utuh ketika Anda memiliki pengalaman dalam bidang marketing. Saya sangat mengapresiasi anak-anak muda yang punya bisnis. Mengapa? Karena anak-anak muda yang punya bisnis bisa belajar langsung dari bisnisnya. Ia tidak sekadar belajar teori dari kelas atau buku, lebih dari itu, mereka belajar langsung dari praktik di lapangan. Bagi anak muda, bisnis bukan hanya tentang mendapatkan uang dan menjadi mandiri. Lebih dari itu, bisnis juga tentang pembelajaran yang bisa didapatkan.
  • Belajarlah dari siapapun, kapanpun, dan di manapun. Ikut seminar, ikut kelas, dengarkan dosen, belajar dari praktisi, diskusi dengan guru, semua itu adalah cara-cara untuk mendapatkan pengetahuan. Kita bisa belajar dari siapapun, kapanpun, dan di manapun.

Tantangan 3 : Ketiadaan Relasi

Relasi merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan bisnis. Relasi dan pertemanan merupakan salah satu aset yang sangat berharga. Ketika kita punya relasi, relasi (teman) kita bisa membantu kita mengembangkan bisnis. Bisa saja mereka akan menjadi pembeli produk kita. Bisa juga mereka akan menjadi salah satu penasihat bisnis kita. Bahkan, bisa juga mereka menjadi investor kita.

Saya punya kisah yang menarik berkaitan dengan relasi.

Anda yang sudah pernah hadir di seminar/workshop saya pasti sudah pernah mendengar kisah ini.

Saat saya pertama kali menulis buku (di usia 15 tahun), saya sama sekali tidak punya kenalan di bidang penerbitan. Saya bahkan sama sekali tidak punya mentor yang mengajari saya menjadi seorang penulis. Lantas, bagaimana saya bisa mendapatkan relasi dan mentor?

Ceritanya sangat menarik.

Waktu itu saya sedang libur sehabis ujian nasional (saat itu saya kelas 3 SMP, menjelang masuk SMA). Saat itu saya sedang belajar tentang blog dan internet marketing. Suatu siang, saya sedang browsing di internet. Saat browsing itu, saya menemukan komunitas penulis buku IT yang ada di Sidoarjo. Komunitas tersebut bernama JavaCreativity.com. Singkat kata, setelah saya membaca blog JavaCreativity.com, saya pun tertarik bergabung di komunitas tersebut. Saya pun menghubungi ketua komunitas tersebut.

Akhirnya saya pun tergabung di komunitas Java Creavity. Semenjak saya tergabung di Java Creativity, saya diarahkan untuk menjadi seorang penulis buku IT di penerbit Elex Media Komputindo. Tak hanya itu, saya juga dipandu langsung untuk menjadi seorang penulis. Saya dibimbing. Saya jadi dapat relasi, plus dapat mentor.

Bayangkan, saya yang semula hanya bocah SMP, yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba secara “kebetulan” dipertemukan dengan komunitas dan mentor. Bagi saya, browsing saya di hari itu menjadi salah satu momen yang mengubah hidup saya. Tanpa pertemuan dengan komunitas Java Creativity tadi barangkali sampai saat ini saya bukanlah penulis produktif yang sudah menulis dan menerbitkan puluhan buku internet marketing.

Cover buku pertama saya (Membangun Toko Online dengan Blogger).

Cover buku pertama saya (Membangun Toko Online dengan Blogger).

Lantas, apa pembelajaran yang bisa dipetik?

Pembelajarannya adalah relasi bisa kita dapatkan asalkan kita sudah siap untuk mendapatkan relasi tersebut. Kalau waktu itu saya tergabung di JavaCreativity tetapi saya tidak siap, maka bisa saja peluang yang saya dapatkan tidak bisa saya manfaatkan dengan maksimal. Ketika kita pantas untuk mendapatkan sesuatu, semesta pasti akan memberikan jalan untuk kita. Hal ini sudah saya alami sendiri. Tanpa adanya “kebetulan” yang diciptakan semesta tadi, mustahil saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Berikut solusi untuk mengatasi ketiadaan relasi.

  • Ikuti komunitas. Mengapa? Karena melalui komunitas inilah Anda bisa berkumpul dengan orang-orang yang satu minat atau memiliki kesamaan dengan Anda. Komunitas adalah ladang yang sangat bagus kalau Anda mau menuai relasi. Kalau Anda ingin menjadi pebisnis di bidang internet, maka ikutilah komunitas pebisnis internet. Kalau Anda ingin berbisnis kuliner, ikutilah komunitas entrepreneur di bidang kuliner.
  • Dekati mentor-mentor dan praktisi berpengalaman. Salah satu faktor penting agar Anda bisa sukses adalah adanya mentor yang membantu Anda. Nah, berkaitan dengan pengalaman saya, saya beruntung mendapatkan mentor di JavaCreativity.com. Lantas, bagaimana cara mendapatkan mentor? Silakan tonton video berikut.


Rekan pembaca sekalian, itulah tiga tantangan terbesar yang sering saya dengar dari teman-teman yang hendak memulai bisnis di usia muda. Mudah-mudahan sharing ini bisa bermanfaat. Semoga rekan-rekan sekalian senantiasa sukses selalu.

Salam Super Sukses!

Jefferly Helianthusonfri

kursus pengembangan diri terlengkap

2 Comments

  1. Arief R Ramadhan

    Modal bikin ide, pitching ke VC, dapat modal, bangun bisnis, give impact for society. Betul suhu? 🙂

  2. Passive07 (Post author)

    @Arief R. He..he konsepnya begitu suhu. Tetapi pada praktiknya jelas butuh perjuangan. Ha..ha

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *