Tips Memulai Bisnis : Seperti Apa Model Bisnis yang Ideal?

Ketika hendak memulai bisnis, pasti kita memiliki pertanyaan semacam ini.

“Nanti bisnis saya bakal sukses atau tidak ya?”

“Apakah bisnis ini akan berhasil atau gagal?”

Wajar untuk memiliki pertanyaan-pertanyaan seacam itu.

Ketika memulai sebuah bisnis, maka pertanyaan yang harus bisa dijawab adalah

Seperti apa model bisnis kita?

Model bisnis merupakan inti dari bisnis Anda.

Model bisnis adalah cara bisnis Anda akan menghasilkan uang.

Dengan model bisnis yang tepat, tentu bisnis Anda punya peluang yang besar untuk berhasil. Lantas, seperti apa model bisnis yang ideal? Berikut ulasan selengkapnya.

Pentingnya Model Bisnis yang Tepat

Coba perhatikan produk-produk yang Anda gunakan setiap hari/hampir setiap hari. Misalnya : Facebook, Google, Indomie, sabun Lifebuoy, premium dari Pertamina, dan lain sebagainya. Produk-produk tadi adalah sederet produk yang sukses. Perusahaan pemilik produk-produk tadi pun sukses dan punya banyak pelanggan.

Sebut saja seperti Facebook atau Google. Kedua perusahaan ini bisa dibilang merajai bisnis digital saat ini.

Model bisnis kedua perusahaan tadi adalah periklanan. Facebook mendapatkan pemasukan dari program Facebook Ads. Melalui Facebook Ads, para pemilik bisnis dapat mengiklankan bisnis/produk mereka di Facebook.

Contoh iklan di Facebook.

Contoh iklan di Facebook.

Pun demikian dengan Google. Google punya program periklanan Google AdWords. Melalui Google AdWords, para pengiklan bisa beriklan di Google dan jaringan penerbit iklan Google.

Contoh tampilan iklan Google AdWords di pencarian Google.

Contoh tampilan iklan Google AdWords di pencarian Google.

Pendapatan iklan mereka pun amat fantastis. Di tahun 2015, pendapatan Google sebesar US$ 74 miliar. Sedangkan pendapatan Facebook mencapai angka US$ 17,9 miliar.

 

Pendapatan Facebook dari tahun ke tahun.

Pendapatan Facebook dari tahun ke tahun.

 

Pendapatan Google dari tahun ke tahun.

Pendapatan Google dari tahun ke tahun.

Lantas, apa yang menyebabkan Facebook ataupun Google masih tetap mampu bertahan hingga saat ini?

Salah satu jawabannya adalah karena model bisnis mereka. Dengan model bisnis yang tepat, sebuah perusahaan akan tetap mampu bersaing, tetap mampu kompetitif, bahkan merajai pasar.

Inilah beberapa kriteria model bisnis yang ideal. Jika bisnis Anda memenuhi kriteria berikut, maka selamat… model bisnis Anda ideal.

1. Pendapatan Anda Jauh Lebih Besar Dibanding Biaya Akuisisi Pelanggan

Biaya akuisisi pelanggan adalah besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mengakuisisi satu pelanggan, biasanya ini berkaitan dengan biaya marketing.

Contoh, jika dalam sebulan Anda mengeluarkan biaya sebesar 5.000.000 Rupiah untuk mendapatkan 100 pelanggan, artinya biaya akuisisi pelanggan Anda adalah 50.000 per pelanggan. Biaya akuisisi ini bisa meliputi biaya Anda beriklan, biaya membayar jasa desainer iklan, biaya membangun networking untuk menjaring konsumen, biaya memberi diskon/promosi, dan lain sebagainya.

Nah, jika satu pelanggan berbelanja sebesar 80.000 Rupiah, maka Anda mendapat 30.000 Rupiah (80 ribu – 50 ribu). 30 ribu Rupiah inilah yang Anda dapatkan dari setiap pelanggan.Jika Anda punya 100 pelanggan, artinya Anda dapat 3.000.000 Rupiah dari mereka.

Sekarang pertanyaannya, apakah  3 juta Rupiah ini bisa menutupi cost (biaya) bisnis Anda (misal : sewa tempat, gaji karyawan, biaya produk)?

Jika misalkan 3 juta tadi mampu menutupi ongkos bisnis,maka Anda akan balik modal atau bahkan untung. Namun jika tidak mampu menutupi biaya/keuntungan yang didapat sangat kecil, maka ada tiga hal yang dapat dilakukan, yakni :

  • Turunkan biaya akuisisi pelanggan. Cek lagi apakah budget pemasaran tadi sudah diarahkan ke tempat dan waktu yang tepat? Apakah ada channel-channel pemasaran yang lebih baik dan efektif? Jika misalkan ada cara pemasaran yang lebih efektif, maka Anda bisa gunakan cara tersebut.
  • Tingkatkan nilai pembelian per pelanggan. Solusi lain adalah meningkatkan nilai pembelian per pelanggan. Bisakah menjadikan tiap pelanggan berbelanja sampai 100 ribu atau mungkin 120 ribu Rupiah? Untuk meningkatkan nilai pembelian, misalnya dengan cara menerapkan strategi cross-selling (Anda mempromosikan produk lain yang relevan dan bisa dibeli pelanggan), up-selling (menawarkan produk yang lebih mahal/besar), ataupun meningkatkan volume pembelian.
  • Tingkatkan jumlah konsumen Anda. Inilah faktor kalinya, yakni tingkatkan jumlah konsumen Anda. Makin banyak konsumen, maka makin besar pendapatan Anda. Jika total pendapatan Anda mampu menutupi semua biaya, maka tentu bisnis Anda akan meraih keuntungan.

Dengan mengetahui biaya akuisisi pelanggan, kita akan tahu berapa anggaran yang harus disiapkan. Selanjutnya, komponen biaya akuisi pelanggan akan ditambahkan dengan biaya lain. Dari sana kita akan tahu berapa harga jual produk yang ideal.

Pendekatan biaya akuisisi pelanggan ini akan sangat membantu bagi mereka yang berbisnis online, khususnya di bidang e-commerce.

2. Bisnis Anda Menjadikan Orang-Orang Terus Membayar/Membeli

Ciri kedua dari model bisnis yang ideal adalah bisnis Anda menjadikan orang-orang terus membayar ke Anda. Contoh bisnis dengan model  ini misalnya : usaha sewa hosting, sewa kos-kosan, les/bimbingan belajar, aplikasi yang disewa secara bulanan/tahunan, dan lain sebagainya.

Spotify (penyedia layanan musik streaming) menerapkan model bisnis semacam ini. Spotify mengenakan biaya berlangganan untuk pelanggan yang mendengarkan musik dari akun berbayar di Spotify.

spotify

Ketika pelanggan terus menerus membayar ke Anda, maka di sana ada cashflow. Aliran uang tadilah yang akan membiayai operasional bisnis Anda. Intinya, akan sangat baik kalau pelanggan Anda membayar biaya bulanan/tahunan/biaya secara berkala.

Bagaimana jika produk Anda bukan produk yang disewa?

Maka solusinya adalah jadikan produk Anda dibeli terus menerus oleh pelanggan. Bagi yang menjual produk consumer goods, tentu hal ini dapat diatasi. Namun, bagaimana dengan produk yang bukan consumer goods?

Mau tak mau, Anda harus menjadikan pelanggan Anda setia untuk terus membeli produk-produk Anda. Misalkan dengan rutin mengeluarkan produk-produk baru. Dan pastikan produk-produk baru tadi selalu laku.

Facebook termasuk perusahaan yang berhasil menciptakan pelanggan setia. Mereka yang sudah pernah beriklan di Facebook dibuat untuk terus menerus memakai iklan Facebook. Solusi yang Facebook tawarkan adalah menyediakan platform periklanan yang powerul + sistem yang “memaksa” orang-orang beriklan di Facebook. Tanpa beriklan di Facebook, jangkauan konten halaman (fans page) kita tidak terlalu luas bila dibandingkan dengan jumlah penggemar yang kita miliki. Misalkan halaman Anda punya 100.000 penggemar, maka konten Anda mungkin hanya menjangkau 10 – 20 % dari total peggemar tadi (sekitar 10 – 20 ribu orang). Alhasil, mau tak mau, Anda “dipaksa” untuk beriklan di Facebook.

Dengan produk yang sangat baik, Facebook berhasil menggaet pelanggan-pelangan setia mereka.

Poin nomor dua ini sama dengan customer lifetime values. Seberapa lama seseorang akan terus menjadi pelanggan Anda? Makin lama customer Anda bertahan, plus makin banyak yang mereka beli, tentu nilai customer tadi akan makin tinggi.

Contoh penyederhanaan, misalkan biaya akuisisi pelanggan Anda adalah 300 ribu Rupiah. Ternyata, selama setahun customer tadi berbelanja selama 4 kali. Setiap kali mereka berbelanja, mereka membayar Anda 250 ribu Rupiah. Artinya,  nilai customer tadi selama setahun adalah 1 juta Rupiah. Bayangkan kalau si customer tadi menjadi pelanggan Anda selama 4 tahun, berapa nilai mereka?

Semakin rendah biaya akuisisi pelanggan, plus semakin tinggi nilai customer lifetime values, maka makin besar profit yang Anda dapatkan.

3. Bisnis Anda Mampu Menghidupi Dirinya Sendiri

Ciri ketiga dari model bisnis yang ideal adalah bisnis Anda mampu menghidupi dirinya sendiri. Dengan kata lain, bisnis Anda perlu punya sistem. Sistem inilah yang akan menjadikan bisnis Anda terus menerus berjalan tanpa perlu mensrayatkan kehadiran Anda. Untuk membangun sistem, maka kedua elemen di atas (poin nomor 1 dan 2) haruslah terpenuhi.

Selanjutnya, pastikan bisnis Anda punya alur yang jelas tentang datangnya pelanggan dan bagaimana cara membangun hubungan dengan pelanggan. Lengkapi juga tiap pos bisnis Anda dengan sumber daya manusia yang tepat (misal : ada orang marketing yang andal, ada yang mengurusi bagian keuangan, pengembangan produk, dsb). Intinya, pastikan bisnis Anda mampu beroperasi tanpa harus mensyaratkan kehadiran Anda.

Selain itu, pemanfaatan tekologi juga bisa menjadikan bisnis Anda berjalan secara otomatis. Dalam bisnis online, tidaklah mengherankan ketika sebuah bisnis bisa ditinggal selama 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan berbulan-bulan oleh pemiliknya. Misalkan untuk urusan penjualan dan penawaran, Anda bisa gunakan web yang beroperasi 24 jam, sistem e-mail marketing, ataupun menggunakan tools lain yang memungkinkan bisnis Anda berjalan secara otomatis. (Anyway, jika Anda butuh panduan belajar email marketing, mari bergabung di situs : www.BelajarListBuilding.com.)

Jika semua hal di atas tercapai, selamat, Anda punya model bisnis yang ideal.

Itulah beberapa ciri model bisnis yang ideal. Kendati demikian, jelas model bisnis yang tepat saja tidak cukup. Bisnis kita harus didukung berbagai faktor lain, seperti produk yang bagus (bahkan luar biasa), manajemen yang baik, dan pastinya sumber daya manusia yang unggul. Perpaduan dari berbagai faktor tadilah yang menjadikan bisnis kita unggul dan mampu bertahan di tengah persaingan.

Menurut saya, di awal tak perlu terlalu pusing dengan pertanyaan apakah model bisnis Anda ideal atau tidak. Yang paling penting adalah Anda berani dan mau memulai bisnis. Tak harus selalu dimulai dengan bisnis besar, tapi bisa dimulai dengan hal-hal sederhana. Sebab pembelajaran paling berharga pasti didapat saat Anda melakukan eksperimen langsung.

Semoga menginspirasi.

Jefferly Helianthusonfri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *